Minggu, 23 Januari 2011

Musim di Jiwa

Belum lama ini, kehidupanku berada di sebuah titik kebahagiaan yang terendah. Hampir setiap hari aku menangis dengan alasan yang bahkan sama sekali tidak kupahami. Jiwaku jatuh ke dalam dinginnya kegelapan dan membeku tanpa cahaya matahari. Berulang kali aku terus bertanya kepada Tuhan dan diriku sendiri, "Apa yang membuat hidupku seperti ini? Mengapa kekuatanku tidak mampu lagi membendung air mata ini? Mengapa duniaku menjadi abu-abu kusam tanpa warna? Mengapa cahaya, senyuman, dan langit biru berlari meninggalkanku? Mengapa nada-nada indah yang terdengar di telingaku menjelma menjadi elegi?"

Pada akhirnya, Tuhan bahkan tidak sudi berbicara kepadaku lagi. Tiap kali aku berbicara dan berdoa kepadanya, yang kudengar hanyalah keheningan panjang. Aku mulai mengasihani diriku sendiri. Aku marah kepada diriku sendiri. Aku marah karena membiarkan diriku jatuh ke dalam kegelapan. Aku marah karena kekuatanku ikut luntur bersama air mata.

Lama aku berjalan di dalam kegelapan, mencari-cari cahaya tanpa arah. Bulan terus berganti dan akhirnya langit pun perlahan-lahan menjadi kelabu. Angin dingin berhembus menggugurkan dedaunan kering, burung-burung gereja terbang lebih rendah daripada pepohonan, dan gemuruh guntur menggelegar tanpa henti. Tak lama kemudian hujan mulai turun, tumpah membasahi dunia. Namun semua itu sama sekali tidak menggangguku. Tidak ada bedanya. Sejak awal duniaku sudah kelabu.

Namun kini aku dapat mendengar suara lain di antara lantunan elegi. Suara hujan. Bumi sedang menangis, dan aku berpikir alangkah baiknya kalau aku bisa bersedih bersama Bumi. Mungkin Bumi bisa memahamiku. Aku berdiri di ambang jendela, meresapi suara hujan itu dalam-dalam. Tapi... tidak ada kesedihan yang berhasil kutangkap di antara irama hujan yang semakin lama semakin deras. Aku bingung, dan merasa semakin kesepian.

Perhatianku tertuju pada bunga bougenvile yang kutanam di samping kamarku. Daunnya menguning, bahkan sudah ada beberapa yang gugur. Namun aku sama sekali tidak khawatir. Aku tahu bougenvile itu akan bertahan dan tetap hidup melewati musim tanpa matahari ini.  "Jangan khawatir, kau akan bertahan," kataku pelan kepada bougenvile itu. Tiba-tiba aku mendengar sebuah suara. Suara jawaban dari pohon bougenvile yang menjelma menjadi suara keyakinan dan kekuatanku yang baru, "Kau juga akan bertahan, kan?"

Kemudian aku mulai memahami segalanya. Benar. Alam semesta, bumi, alam, dan semua yang hidup memiliki siklus mereka masing-masing. Alam semesta, bumi, alam, dan semua yang hidup memiliki musim mereka masing-masing. Termasuk aku. Termasuk ragaku. Termasuk hatiku. Termasuk jiwaku.

Aku juga harus melewati semua ini. Momen-momen kesedihan dan kesendirian musim gugur, diikuti dengan membekunya hati oleh salju musim dingin. Ya, seluruh manusia juga harus melewatinya. Tuhan telah mengirimkan musim kepada semua kehidupan untuk memberi kita pelajaran bahwa segala sesuatu pasti memiliki akhir. Namun di sisi lain, aku menjadi sangat lega dan bersyukur saat aku menemukan bahwa jiwaku juga memiliki musimnya sendiri. Musim berbunga, dan juga musim gugur. Saat untuk berbahagia, dan saat untuk bersedih.

Aku tahu Bumi telah menemukan pemahaman itu, dan sekarang ia sedang mengajariku pemahaman yang sama melalui hujan dan langit tanpa mentari. Bumi, dan juga alam semesta, mengerti bahwa mereka harus melewati musim ini agar dapat terus berputar ke musim selanjutnya. Mereka mengerti bahwa setiap musim memiliki keindahan, pesona, dan kekuatannya masing-masing. Dan kalau Bumi bisa melalui musim gugur dan musim dingin dengan indah dan bersahaja, maka aku juga pasti bisa.

Di dalam kegelapan tanpa cahaya, aku telah menemukan kekuatan baru. Kekuatan yang berasal dari pemahaman bahwa kesedihan di musim gugur ini, pasti akan diikuti oleh kebahagiaan di musim semi. Dan semua itu membuatku tenang.

Tuhan, Aku Siap untuk Berubah

Dulu, salah seorang sahabatku pernah mencoba untuk mengubahku, menjadikanku mirip sepertinya, melakukan apa yang dilakukannya, dan berpikir seperti apa yang dipikirkannya. Saat itu jiwaku masih labil dan mudah terpengaruh, namun satu hal yang tidak pernah berubah dariku sejak aku masih kecil adalah kekeraskepalaanku. Aku tidak suka mengikuti arus. Aku lebih suka “berenang” ke arah yang kuinginkan, ke dasar lautan yang paling gelap dan misterius, atau ke permukaan gelombang yang hangat oleh cahaya mentari. Karena itu, aku sangat sakit hati ketika menyadari maksud sahabatku yang sebenarnya, apalagi dia mencoba mengubahku dengan cara meminta orang lain untuk terus-terusan menyindirku.

Sejak saat itu aku tidak pernah mencoba untuk mengubah orang lain karena aku sangat mengerti bagaimana sakitnya perasaanku saat orang lain mencoba untuk mengubahku. Namun, ternyata “mencoba untuk tidak mengubah orang lain” itu sangat sulit, karena seringkali aku menemukan beberapa hal yang tidak kusukai dari orang-orang di sekelilingku.

Dulu, tiap kali aku bersosialisasi dengan teman-teman dan bahkan keluargaku, tanpa sadar aku selalu mencaritahu kelemahan mereka dan menghakimi mereka berdasarkan kelemahan yang bahkan mungkin sama sekali tidak dianggap sebagai kelemahan oleh orang yang bersangkutan. Tanpa sadar aku merendahkan dan bahkan menjatuhkan orang lain dengan pemikiranku, padahal pada kenyataannya akulah yang telah terjatuh paling dalam karena telah memiliki pemikiran senegatif itu. Sejak saat itu, aku selalu melangkah ke ketidaksempurnaan yang satu ke ketidaksempurnaan yang lain.

Aku mulai merasa lelah dengan semua itu. Aku lelah dengan keterbatasan manusia (terutama keterbatasanku sendiri). Aku lelah dengan sifat buruk orang-orang di sekelilingku (terutama sifat burukku sendiri). Dan aku lelah dengan kekurangan orang-orang di sekelilingku (terutama kekuranganku sendiri). Aku marah. Aku marah kepada diriku sendiri. Aku melampiaskan kemarahanku kepada Tuhan, meminta agar Ia mengubahku, mengambil kelemahan-kelemahanku, dan menjadikanku manusia super tanpa kekurangan dan sifat buruk.

Pada saat itu, Tuhan tidak menanggapi permintaan konyolku (tentu saja), bukan karena Tuhan tidak bisa melakukannya, tapi karena aku belum siap untuk berubah (bahkan meskipun aku sangat ingin berubah). Kemudian, aku menemukan “mereka”. Saudari-saudari spiritual-ku, begitulah aku menyebut mereka. Saat aku bertemu mereka, Tuhan seolah sedang menyatakan sesuatu kepadaku, “Kau belum siap untuk berubah, tapi Aku akan memberikan sesuatu yang kau butuhkan untuk berubah. Pada akhirnya, semuanya tetap menjadi pilihanmu.

Saudari-saudari spiritualku adalah orang-orang baru bagiku, dan mereka pun belum mengenalku. Namun mereka mau menerima keberadaanku lebih dibandingkan aku menerima diriku sendiri. Mereka menerima kelemahanku di saat aku menolak kelemahanku sendiri. Mereka selalu mengangkatku, membuatku melihat potensi-potensi berharga yang kumiliki (namun potensi-potensi tersebut kerap kuabaikan karena aku terlalu berfokus pada kelemahanku).

Seumur hidupku, belum pernah aku merasakan keberadaanku begitu berarti bagi orang-orang di sekelilingku. Perlahan-lahan, aku mulai mencoba untuk mengubah sudut pandangku seperti sudut pandang saudari-saudari spiritualku. Satu per satu aku mulai dekat dengan mereka dan menemukan bahwa mereka adalah orang-orang luar biasa yang keberadaannya telah banyak mengubah kehidupan orang-orang di sekeliling mereka ke arah yang lebih positif. Mereka tetap manusia biasa, dengan kekurangan dan kelebihan mereka, dan tentu saja memiliki masalah mereka masing-masing. Namun semua itu tidak menghentikan mereka untuk mengangkat orang-orang di sekeliling mereka. Dan mereka juga telah mengangkatku.

Mereka tidak pernah mencoba untuk mengubahku, namun apa yang telah mereka tunjukkan kepadaku membuatku ingin menjadi seperti mereka. Awalnya memang sulit, terutama karena selama ini aku selalu melihat orang lain dari kelemahan-kelemahan mereka. Tiap kali aku mencoba, pikiranku selalu mengatakan, “Dia memiliki ego yang besar,” atau, “Tingkahnya menyebalkan,” atau, “Sikapnya sangat kekanakkan”. Lalu aku mencoba untuk memasukkan kata “tapi” di dalam setiap penilaianku. “Dia memiliki ego yang besar, TAPI dia sangat loyal kepada sahabatnya,” dan, “Tingkahnya menyebalkan, TAPI sebenarnya dia sangat peduli pada orang lain,” dan, “Dia kekanakkan, TAPI kata-katanya selalu membuatku tertawa.

Pada akhirnya, aku tidak lagi melihat sebuah kelemahan sebagai kelemahan, namun HANYA sebagai karakter seseorang. Kelemahan atau kelebihan adalah penilaian yang subyektif. Beberapa orang menganggap “perasaan yang sensitif” sebagai sebuah kelemahan, namun jika memiliki arah yang benar, “perasaan yang sensitif” dapat menjadi sebuah kelebihan. Kata TAPI menghilang dari penilaianku, dan aku mulai melihat orang-orang di sekelilingku dari sudut pandang yang lebih positif.

ADIKKU pintar berbicara dan ia mampu mempengaruhi orang lain dengan kemampuannya itu. Ada pola humor yang sering membuatku tertawa di dalam sikap & cerita-cerita yang ia paparkan kepadaku.”
IBU yang kumiliki adalah ibu yang terbaik karena yang ia inginkan hanyalah kebahagiaan anak-anaknya.”
ANNISA memiliki pemikiran yang dewasa, jauh lebih dewasa dibandingkan denganku. Aku punya banyak memori masa kecil yang berharga dengannya, tentang petualangan-petualangan & juga kisah cinta.”
ANGGITA selalu memiliki rencana yang menyenangkan dan aku senang ‘berpetualang’ dengannya. Ia adalah salah satu orang paling tangguh yang pernah kukenal.”
BAYU adalah pemberi dukungan yang baik. Aku senang meminta dukungannya saat aku ingin melakukan sesuatu yang nekat.”
JEAN memiliki humor yang ‘pintar’ dan aku sering tertawa saat membaca tulisan-tulisannya, ia begitu bijaksana dan berkali-kali telah membantuku melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.”
ARMAN memiliki sudut pandang yang ‘damai’ dalam melihat kehidupan, ia selalu mengingatkanku untuk lebih menikmati, menghargai, dan mensyukuri hidup.” 
ALES memiliki pikiran yang terbuka. Terkadang ia berpikir “di luar kotak” dan aku selalu melihat ada sesuatu yang menyegarkan dan menarik dari setiap pemikirannya.
IZZA memiliki kemampuan untuk menularkan semangat hidupnya kepada orang-orang di sekelilingnya.”
“Mba DEKE adalah teman bicara yang menyenangkan dan memiliki kemampuan untuk berbaur dengan siapa saja. Ia pandai menempatkan dirinya dalam berbagai situasi.”
“Mba OLIN begitu bijaksana dalam menyikapi kehidupan, dan aku senang mendengarkannya saat ia sedang menguraikan sudut pandangnya dalam melihat suatu masalah.”
“Mba PADMI begitu nyaman menjadi dirinya sendiri tanpa terpengaruh oleh pendapat orang lain, dan aku berharap bisa melakukan hal sama pada diriku sendiri.”
“Mas SAPTO memiliki ketegaran yang luar biasa dan tidak mudah roboh saat badai masalah menyerangnya. Pemikirannya begitu hati-hati dan penuh pertimbangan yang matang.”
“Mas ENDI selalu dapat menyelipkan humor dalam kata-katanya, dan aku selalu tertawa tiap kali mendengar atau membaca celetukan-celetukannya, bahkan meskipun aku sedang tidak ingin tertawa.”

Kemudian aku juga mulai memahami bahwa sebenarnya semua orang sudah lelah menerima kritikan. Mereka telah mengkritik diri mereka sendiri (baik secara sadar ataupun tidak sadar) tiap kali mereka melakukan kesalahan atau kegagalan, dan mereka tidak lagi membutuhkan kritik dari orang lain. Yang mereka butuhkan adalah dukungan, pengertian, pemahaman, atau bahkan hanya sebuah senyuman tulus yang mengatakan, “Terima kasih karena telah melakukan yang terbaik.

Aku masih tidak ingin mengubah orang lain, namun aku ingin orang lain merasakan apa yang selama ini sudah kurasakan saat saudari-saudari spiritualku mengangkatku. Menemukan kelemahan orang lain memang menyenangkan, namun mencari kelebihan orang lain ternyata jauh lebih menyenangkan. Aku selalu tersenyum setiap kali menemukan kelebihan-kelebihan dalam diri seseorang dan selalu berkata, Ah, akhirnya aku dapat melihat cahayanya.

Kemudian, aku kembali teringat dengan permintaanku kepada Tuhan. Dan saat akhirnya aku merasa sudah siap untuk berubah, aku kembali kepada Tuhan dan berkata, “Tuhan, aku sudah siap untuk berubah.” Dalam pernyataan singkatku itu aku mendengar suara tawa Tuhan, “Kau sudah berubah,” kataNya lembut.

Surat untuk Sahabat

Sahabatku yang baik,

Aku sangat memahami kebosananmu, karena dulu aku juga pernah merasakan kebosanan seperti itu (bahkan kreativitas sudah tidak bisa menolongku lagi). Sahabatku, kalau sampai saat ini ada satu hal yang dapat kusyukuri, itu adalah keberadaanmu. Aku sangat bersyukur karena aku menemukan seorang sahabat yang begitu mempercayai Tuhan, dan aku tahu kau tidak akan pernah meremehkan mimpi dan harapan orang lain.

Sahabatku, selama ini kau banyak berdoa dan berbicara kepada Tuhan. Aku paham saat kau berkata kalau Tuhan akan menjawab dengan indah tepat pada waktunya. Tapi Sahabatku, terkadang kita sendirilah yang harus menciptakan waktu dan momen indah itu. Terkadang, Tuhan hanya memberi kita peluang untuk menciptakan waktu dan momen indah itu. Jangan lupa untuk mendengarkan Tuhan juga, Sahabatku. Sebab terkadang kita terlalu sibuk berbicara, memohon, dan berdoa, sampai kita tidak menyadari bahwa sebenarnya Tuhan sudah menjawab doa kita. Sebentar saja, cobalah berhenti berpikir, merencanakan, dan mempertimbangkan. Sebentar saja, cobalah untuk menerima apa yang sudah disodorkan oleh kehidupan kepada kita.

Sahabatku, masih ingat saat kita dulu ulang tahun dan teman-teman memberi kita kado yang besar? Saat kita buka pita dan kertas pembungkusnya yang indah, ternyata masih ada kertas pembungkus lain dari koran, dan terus seperti itu. Pada akhirnya, yang tersisa adalah sebuah kotak kecil. Aku ingat teman kita bahkan menyembunyikan kado itu di antara potongan-potongan kertas koran di dalam kotak. Dan pada akhirnya, saat aku menemukan kado yang sesungguhnya, aku akan tertawa sambil berkata, "Oh, ternyata ada di sini". Kejutan lainnya adalah saat sang pemberi hadiah bertanya, "Apa kau sudah membaca kertas ucapannya?" Saat itu aku menganggap semua kertas-kertas koran itu sebagai sampah, tapi ternyata masih ada kejutan lain di dalamnya, ucapan selamat ulang tahun yang tulus dari seorang teman. Dan untungnya, aku belum sempat membuang kertas-kertas itu.

Sahabatku, terkadang Tuhan juga memberi jawaban dengan cara yang sama. Kita harus membuka kertas pembungkusnya satu per satu, sambil sesekali mencari kejutan-kejutan kecil di antara kertas-kertas tersebut. Hadiah utamanya, adalah jawaban dari Tuhan untuk doa-doamu selama ini, Sahabatku, sesuatu yang benar-benar kau butuhkan. Dan kejutan-kejutan kecil yang kau temukan di antara kertas-kertas pembungkus itu adalah kebahagian-kebahagiaan yang akan kau dapatkan di sepanjang perjalananmu membuka kado tersebut.

Jadi, jangan menyerah saat perjalananmu membuka kado menjadi membosankan, Sahabatku. Carilah hadiah-hadiah kecil yang diselipkan oleh Tuhan di sepanjang perjalanan itu. Perhatikan, dengarkan, rasakan, tapi jangan dipikirkan atau dipertimbangkan. Kita sama sekali tidak memerlukan alasan untuk berbahagia, sebab selama ini Tuhan telah menghadiahkannya kepada kita, bahkan sebelum kita sempat menemukan kado utamanya. Sesekali, lihatlah hidup sebagaimana adanya, Sahabatku. Alam semesta tidak pernah memberikan kita sesuatu yang membosankan. Tapi saat kita bosan, itu berarti kita lupa bagaimana cara menikmati hidup yang sebenarnya.