Minggu, 05 Desember 2010

Biarkan Orang Lain Mengangkat Kita

Kehidupanku benar-benar sebuah anugerah, karena bahkan Tuhan tidak pernah berhenti menyentuh hatiku di saat aku merasa sangat bosan dengan kehidupanku yang monoton. Tuhan telah memberkatiku dengan kehadiran manusia-manusia luar biasa di sekelilingku. Dan hari ini, aku kembali menemukan sebuah jiwa yang memiliki cahaya indah.
Beberapa bulan yang lalu, teman Facebook-ku pernah bercerita kepadaku kalau ia tidak dapat menggunakan ego-nya saat berhadapan dengan keluarganya. Aku tidak menyalahkan sikapnya. Sebaliknya, aku justru mengagumi keputusannya untuk ‘berkorban’ demi keluarganya. Hari ini pun, aku menemukan orang yang memiliki cahaya yang sama dengan teman Facebook-ku. Ia bahkan rela mengorbankan dirinya demi melindungi orang yang sudah melukainya.
Sejujurnya, awalnya aku menganggap kalau temanku ini memiliki ‘standar ganda’ dalam menjalani hidupnya. Namun tampaknya kali ini aku kembali menjadi seseorang yang terlalu cepat menghakimi orang lain. Pelajaran yang kudapatkan dari kejadian ini adalah: “Jangan terlalu cepat mempercayai perkataan orang lain, terutama jika mereka membicarakan keburukan diri mereka sendiri.” Benar, aku tidak berhak menghakimi orang lain hanya berdasarkan pada kata-kata mereka, karena seringkali aku tidak memahami tujuan dan maksud mereka saat mereka mengatakan kata-kata itu.
Bagiku, seorang pahlawan bukanlah mereka yang berdiri dengan gagah berani di medan perang dan menyelamatkan kita dari musuh yang mengancam. Pahlawan yang sebenarnya adalah mereka yang rela membuang ego mereka dan membiarkan diri mereka terinjak-injak & menderita demi membela orang yang mereka kasihi, orang yang sama sekali tidak mereka kenal, atau bahkan orang lain yang telah menyakiti mereka. Saat mereka berhasil mengalahkan ego mereka, maka mereka telah ‘mengangkat’ orang lain. ‘Mengangkat’ orang yang kita kasihi dan membiarkan diri kita menjadi batu injakan mereka bukanlah tugas yang mudah. Dan ‘mengangkat’ orang yang telah melukai kita dan membiarkan diri kita menjadi batu injakan adalah tugas yang nyaris mustahil. Namun temanku berhasil melakukannya.
Masalah umum yang kerap kita temui pada sosok seorang pahlawan sejati adalah: “mereka enggan menyerah”. Pahlawan sejati sangat loyal, dan bahkan akan terus melanjutkan misi mereka selama udara masih mengalir di paru-paru mereka. Mereka begitu kuat dalam kerendahan hati mereka, hingga mereka enggan merepotkan orang lain, bahkan meskipun mereka benar-benar membutuhkan bantuan. Para pahlawan kerap melupakan fakta bahwa mereka juga hanyalah seorang manusia biasa, meskipun mereka memiliki jiwa seorang malaikat.

Tiap-tiap manusia yang ada di dunia ini memiliki perjalanan hidup mereka masing-masing. Meskipun begitu, jalan yang kita tempuh bukanlah jalan lurus, melainkan jalan bercabang yang seringkali mempertemukan kita dengan jalan manusia lain (dan aku sangat bersyukur karena percabangan jalanku telah mempertemukanku dengan banyak sahabat dan teman-teman yang baik). Terkadang perjalanan kita mulus, penuh dengan cahaya matahari, dan semilir angin segar. Namun ada kalanya perjalanan kita penuh lubang, gelombang badai besar, dan bahkan terhadang oleh gunung yang menjulang tinggi.
Kita semua telah melakukan tugas-tugas hebat selama hidup di dunia ini. Beberapa dari kita telah melindungi, menjaga, dan merawat orang-orang di sekeliling kita. Ada yang mengorbankan ego demi kebahagiaan orang lain, dan ada mendedikasikan hidup mereka untuk orang-orang yang mereka sayangi. Namun saat kita menemui sebuah gunung besar menghadang perjalanan kita, kita harus mengakui kalau mungkin kita tidak terlalu kuat untuk mendakinya seorang diri.
Para pahlawan mendedikasikan hidup mereka untuk menolong dan melindungi orang-orang di sekitar mereka. Namun terkadang mereka lupa kalau sebenarnya merekalah yang membutuhkan bantuan. Terkadang mereka lupa kalau Tuhan mencoba untuk menolong mereka melalui orang-orang di sekeliling mereka. Benar, masing-masing manusia memang memiliki perjalanan hidupnya masing-masing, namun terkadang kita harus memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berbuat baik kepada kita.
Terkadang kita harus membiarkan orang lain menarik kita dari tepi jurang kegelapan. Terkadang kita harus membiarkan orang lain menuntun kita saat mata kita dibutakan oleh rasa sakit dan kesedihan. Dan bahkan terkadang kita harus membiarkan orang lain menghalangi langkah kita saat jalan di depan kita dipenuhi oleh kabut hitam. 
Terkadang… kita harus membiarkan orang lain mengangkat kita agar kita dapat mendaki gunung dan melanjutkan perjalanan.

Marilyn Monroe pernah mengatakan kalau setiap manusia adalah bintang, dan mereka memiliki hak untuk bersinar. Dan malam ini, temanku adalah bintang yang sinarnya paling cemerlang di langit malam.


***Catatan ini kudedikasikan untuk “K” (teman Friendster & Facebook-ku), “H.P” (teman kuliahku), & My Spiritual Sisters, yang telah mendedikasikan kehidupan mereka yang mulia untuk mengangkat orang-orang di sekeliling mereka.

Kamis, 02 Desember 2010

Kacamata Pelangi


Aku begitu bersyukur karena hidupku dikelilingi oleh orang-orang yang menarik, yang dapat menjadikan duniaku jauh lebih berwarna. Selama ini aku selalu mencoba untuk membayangkan diriku berdiri di posisi orang lain, “memakai sepatu & kacamata mereka”, karena dengan cara seperti itu aku mampu memahami dan mengerti mereka. Dan seringkali pemahaman yang kutemukan membawaku ke dalam perasaan dan emosi yang beragam dan menarik.
Aku menyukai cara tertawa salah seorang temanku. Saat dia tertawa, aku merasakan adanya ungkapan yang jauh lebih dalam dan bermakna di balik tawanya. Suara tawanya penuh dengan pemahaman, seolah akhirnya dia berhasil melihat sebuah kejadian atau kisah dari sudut pandang yang lebih ringan dan menyegarkan. Temanku adalah seorang pejuang (atau seperti itulah aku melihatnya). Hidupnya dipenuhi target dan setiap langkah yang diambilnya adalah tahap-tahap perjalanan untuk menggapai mimpi-mimpinya. Dan caranya tertawalah yang telah membantuku untuk menemukan hal lain dari dirinya. Suara tertawanya mampu membuatku merasa tenang, karena ternyata ia masih dapat melihat kehidupan dan dunia sebagai sebuah gurauan dan tempat bermain.
Aku juga menyukai cara sahabat dan adikku bercerita. Sahabatku adalah orang yang tangguh namun tidak pernah lupa untuk bersyukur. Ia menginginkan kehidupan normal lebih dari siapapun yang pernah kutemui, dan aku sangat memahami alasannya. Ia juga telah mengajariku banyak hal tentang kehidupan. Dan salah satu kelebihannya yang paling kusukai adalah, ia mampu menceritakan kisah-kisah datar dalam kehidupan sehari-harinya menjadi sesuatu yang lucu dan menyegarkan. Jika aku melihat kejadiannya secara nyata, mungkin aku tidak akan tertawa atau bahkan menganggap semua itu sebagai kejadian yang lucu. Namun ketika kejadian itu dikisahkan kembali melalui sudut pandang sahabatku, ada kesegaran baru yang selalu dapat membuatku tersenyum lebar dan bahkan tertawa lepas.
Adikku lebih sering menceritakan film-film yang baru saja ia tonton. Dia orang yang sangat senang berbicara. Bahkan ketika ia melihatku sedang berkonsentrasi pada hal lain, ia tetap saja berbicara hingga terkadang aku tertawa melihat sikapnya. Tiap kali adikku tertarik pada film yang baru ia tonton, ia akan merekomendasikannya kepadaku dan menceritakan isi film tersebut. Dan ceritanya selalu menarik hingga membuatku penasaran ingin menonton film tersebut. Terkadang aku memang menonton film yang direkomendasikan olehnya, namun sejujurnya aku lebih senang kalau ia menceritakan isi film tersebut secara langsung. Sebab seringkali saat aku menonton film-film tersebut, ternyata jalan ceritanya tidak semenarik apa yang sudah diceritakan oleh adikku.
Aku sendiri tidak begitu pintar berbicara, dan sebenarnya aku sangat payah. Aku lebih banyak diam dan mengobservasi sekelilingku. Namun aku suka mendramatisir segala hal, terutama tulisan-tulisanku. Aku melakukan semua itu tanpa sadar dan bahkan tanpa tahu bagaimana caranya (dan aku juga baru menyadarinya akhir-akhir ini). Beberapa hari yang lalu aku mengirim SMS kepada temanku. Dalam SMS itu aku menceritakan kronologi sebuah kejadian yang baru saja kualami. Sebenarnya jika dia melihat kejadian itu secara langsung, mungkin dia akan tertawa karena sebenarnya kejadian tersebut sangat konyol dan memalukan. Tapi entah kenapa dia malah menganggap kejadian yang kualami itu mirip dengan sinetron.
Dulu, saat aku masih sekolah, aku sering melakukan ‘petualangan’ dengan sahabat masa kecilku (yang tentu saja masih menjadi sahabatku sampai sekarang). Setiap sore kami bertemu dan berkelana dengan motor, menyusuri gang-gang kecil yang belum pernah kami lewati sebelumnya. Kami sama sekali tidak takut tersesat selama kami masih bersama-sama. Terkadang kami membuntuti cowo-cowo yang kami sukai, beraksi seperti detektif, dan buru-buru menyembunyikan keberadaan kami saat cowo itu merasa dibuntuti (kami juga pernah ketahuan, tapi lalu kami memasang wajah polos seolah tidak tahu apa-apa). Kami menciptakan drama kami sendiri di sore yang tenang dan membosankan. Mungkin orang-orang di sekeliling kami hanya akan melihat kami sebagai dua orang remaja perempuan yang sedang bermain atau berjalan-jalan sore. Tapi di dalam jiwa terdalam kami, kami tahu kalau kami sedang berpetualang. Naluri petualangan itu pun masih melekat kuat di dalam jiwaku sampai saat ini (meskipun aku memiliki tingkat keparahan yang luar biasa dalam menebak dan menghapal arah).
Adikku, sahabat-sahabatku, dan temanku, mereka hanyalah beberapa dari banyak manusia ekspresif yang kukenal. Mereka adalah para seniman kehidupan yang mampu mewarnai duniaku dan dunia orang-orang di sekeliling mereka dengan kombinasi warna indah yang mampu membuat kita tersenyum (bahkan meskipun mereka tidak menyadarinya). Mereka adalah manusia-manusia berharga yang mampu membuat kita melupakan keras pahitnya kehidupan. Dan mereka membuatku menyadari bahwa segala sesuatu tidak selalu hitam, putih, atau kelabu. Terkadang kita harus menunggu untuk menyaksikan warna apa yang akan muncul dari balik garis perak awan-awan mendung.
Mungkin, semua yang telah mereka kisahkan kepadaku, apa yang dapat kutangkap dari ekspresi mereka, dan petualangan yang kuciptakan bersama mereka, semua itu dilihat dari sudut pandang yang subjektif. Namun kalau semua itu dapat menjadikan duniaku lebih berwarna dan cerah, aku sama sekali tidak keberatan memakai kacamata pelangi mereka. Lagipula, bukankah tiap karya seni pada mulanya adalah sudut pandang subjektif dari para penciptanya, seperti manusia yang diciptakan melalui kacamata pelangi Tuhan?

Sendirian...

Aku di sini,
Berdiri di antara hari-hari,
Yang tidak pernah berhenti berlari.

Di dalam tubuhku tersimpan sejarah,
Warisan dari akar-akar masa lalu,
Hidup dan bergejolak bagai badai,
Namun tenggelam di dasar jiwaku.

Ada senandung nyanyian dalam keabadian,
Di tiap hembusan angin dan sapaan angan,
Iramanya memanggilku kembali pulang,
Melampaui tanah dan waktu seberang.

Aku melihat tarian-tarian indah alam,
Di siang yang paling terang dan malam yang paling kelam,
Menggodaku dalam tiap gerakan,
Meraihku untuk berdansa bersama rembulan.

Aku mendengar suara tawa lembut,
Dari balik kelambu malam berkabut,
Menyusup ke dalam mimpi-mimpi terdalamku,
Memberkatiku dengan rahasia-rahasia semesta.

Namun terkadang ingin kusangkal,
Hal-hal yang hanya dapat kusaksikan sendirian,
Kadang kuharap jiwaku lebih dangkal,
Tanpa pernah memikirkan pelajaran atau perjalanan.

Terkadang aku ingin melihat mentari yang sama,
Berjalan dan berlari di antara jiwa-jiwa muda,
Namun panggilan pulang tak dapat kutolak,
Karena keindahannya mampu menggetarkan cinta.

Tapi aku sangat lelah dan masih muda,
Untuk menjadi begitu kaya dan tua.
Di masaku kini pencerahan tak lagi berharga,
Hanya memisahkanku dari jiwa lain yang ada.

Kata-kataku kehilangan makna,
Orang-orang menganggapku tak nyata,
Karena aku tak berlari secepat mereka,
Di jalan yang penuh lubang dan tak rata.

Aku masih di sini,
Berdiri di antara hari-hari,
Menjaga sejarah yang terlupakan,
Sendirian…