Belum lama ini, kehidupanku berada di sebuah titik kebahagiaan yang terendah. Hampir setiap hari aku menangis dengan alasan yang bahkan sama sekali tidak kupahami. Jiwaku jatuh ke dalam dinginnya kegelapan dan membeku tanpa cahaya matahari. Berulang kali aku terus bertanya kepada Tuhan dan diriku sendiri, "Apa yang membuat hidupku seperti ini? Mengapa kekuatanku tidak mampu lagi membendung air mata ini? Mengapa duniaku menjadi abu-abu kusam tanpa warna? Mengapa cahaya, senyuman, dan langit biru berlari meninggalkanku? Mengapa nada-nada indah yang terdengar di telingaku menjelma menjadi elegi?"
Pada akhirnya, Tuhan bahkan tidak sudi berbicara kepadaku lagi. Tiap kali aku berbicara dan berdoa kepadanya, yang kudengar hanyalah keheningan panjang. Aku mulai mengasihani diriku sendiri. Aku marah kepada diriku sendiri. Aku marah karena membiarkan diriku jatuh ke dalam kegelapan. Aku marah karena kekuatanku ikut luntur bersama air mata.
Lama aku berjalan di dalam kegelapan, mencari-cari cahaya tanpa arah. Bulan terus berganti dan akhirnya langit pun perlahan-lahan menjadi kelabu. Angin dingin berhembus menggugurkan dedaunan kering, burung-burung gereja terbang lebih rendah daripada pepohonan, dan gemuruh guntur menggelegar tanpa henti. Tak lama kemudian hujan mulai turun, tumpah membasahi dunia. Namun semua itu sama sekali tidak menggangguku. Tidak ada bedanya. Sejak awal duniaku sudah kelabu.
Namun kini aku dapat mendengar suara lain di antara lantunan elegi. Suara hujan. Bumi sedang menangis, dan aku berpikir alangkah baiknya kalau aku bisa bersedih bersama Bumi. Mungkin Bumi bisa memahamiku. Aku berdiri di ambang jendela, meresapi suara hujan itu dalam-dalam. Tapi... tidak ada kesedihan yang berhasil kutangkap di antara irama hujan yang semakin lama semakin deras. Aku bingung, dan merasa semakin kesepian.
Perhatianku tertuju pada bunga bougenvile yang kutanam di samping kamarku. Daunnya menguning, bahkan sudah ada beberapa yang gugur. Namun aku sama sekali tidak khawatir. Aku tahu bougenvile itu akan bertahan dan tetap hidup melewati musim tanpa matahari ini. "Jangan khawatir, kau akan bertahan," kataku pelan kepada bougenvile itu. Tiba-tiba aku mendengar sebuah suara. Suara jawaban dari pohon bougenvile yang menjelma menjadi suara keyakinan dan kekuatanku yang baru, "Kau juga akan bertahan, kan?"
Kemudian aku mulai memahami segalanya. Benar. Alam semesta, bumi, alam, dan semua yang hidup memiliki siklus mereka masing-masing. Alam semesta, bumi, alam, dan semua yang hidup memiliki musim mereka masing-masing. Termasuk aku. Termasuk ragaku. Termasuk hatiku. Termasuk jiwaku.
Aku juga harus melewati semua ini. Momen-momen kesedihan dan kesendirian musim gugur, diikuti dengan membekunya hati oleh salju musim dingin. Ya, seluruh manusia juga harus melewatinya. Tuhan telah mengirimkan musim kepada semua kehidupan untuk memberi kita pelajaran bahwa segala sesuatu pasti memiliki akhir. Namun di sisi lain, aku menjadi sangat lega dan bersyukur saat aku menemukan bahwa jiwaku juga memiliki musimnya sendiri. Musim berbunga, dan juga musim gugur. Saat untuk berbahagia, dan saat untuk bersedih.
Aku tahu Bumi telah menemukan pemahaman itu, dan sekarang ia sedang mengajariku pemahaman yang sama melalui hujan dan langit tanpa mentari. Bumi, dan juga alam semesta, mengerti bahwa mereka harus melewati musim ini agar dapat terus berputar ke musim selanjutnya. Mereka mengerti bahwa setiap musim memiliki keindahan, pesona, dan kekuatannya masing-masing. Dan kalau Bumi bisa melalui musim gugur dan musim dingin dengan indah dan bersahaja, maka aku juga pasti bisa.
Di dalam kegelapan tanpa cahaya, aku telah menemukan kekuatan baru. Kekuatan yang berasal dari pemahaman bahwa kesedihan di musim gugur ini, pasti akan diikuti oleh kebahagiaan di musim semi. Dan semua itu membuatku tenang.
Pada akhirnya, Tuhan bahkan tidak sudi berbicara kepadaku lagi. Tiap kali aku berbicara dan berdoa kepadanya, yang kudengar hanyalah keheningan panjang. Aku mulai mengasihani diriku sendiri. Aku marah kepada diriku sendiri. Aku marah karena membiarkan diriku jatuh ke dalam kegelapan. Aku marah karena kekuatanku ikut luntur bersama air mata.
Lama aku berjalan di dalam kegelapan, mencari-cari cahaya tanpa arah. Bulan terus berganti dan akhirnya langit pun perlahan-lahan menjadi kelabu. Angin dingin berhembus menggugurkan dedaunan kering, burung-burung gereja terbang lebih rendah daripada pepohonan, dan gemuruh guntur menggelegar tanpa henti. Tak lama kemudian hujan mulai turun, tumpah membasahi dunia. Namun semua itu sama sekali tidak menggangguku. Tidak ada bedanya. Sejak awal duniaku sudah kelabu.
Namun kini aku dapat mendengar suara lain di antara lantunan elegi. Suara hujan. Bumi sedang menangis, dan aku berpikir alangkah baiknya kalau aku bisa bersedih bersama Bumi. Mungkin Bumi bisa memahamiku. Aku berdiri di ambang jendela, meresapi suara hujan itu dalam-dalam. Tapi... tidak ada kesedihan yang berhasil kutangkap di antara irama hujan yang semakin lama semakin deras. Aku bingung, dan merasa semakin kesepian.
Perhatianku tertuju pada bunga bougenvile yang kutanam di samping kamarku. Daunnya menguning, bahkan sudah ada beberapa yang gugur. Namun aku sama sekali tidak khawatir. Aku tahu bougenvile itu akan bertahan dan tetap hidup melewati musim tanpa matahari ini. "Jangan khawatir, kau akan bertahan," kataku pelan kepada bougenvile itu. Tiba-tiba aku mendengar sebuah suara. Suara jawaban dari pohon bougenvile yang menjelma menjadi suara keyakinan dan kekuatanku yang baru, "Kau juga akan bertahan, kan?"
Kemudian aku mulai memahami segalanya. Benar. Alam semesta, bumi, alam, dan semua yang hidup memiliki siklus mereka masing-masing. Alam semesta, bumi, alam, dan semua yang hidup memiliki musim mereka masing-masing. Termasuk aku. Termasuk ragaku. Termasuk hatiku. Termasuk jiwaku.
Aku juga harus melewati semua ini. Momen-momen kesedihan dan kesendirian musim gugur, diikuti dengan membekunya hati oleh salju musim dingin. Ya, seluruh manusia juga harus melewatinya. Tuhan telah mengirimkan musim kepada semua kehidupan untuk memberi kita pelajaran bahwa segala sesuatu pasti memiliki akhir. Namun di sisi lain, aku menjadi sangat lega dan bersyukur saat aku menemukan bahwa jiwaku juga memiliki musimnya sendiri. Musim berbunga, dan juga musim gugur. Saat untuk berbahagia, dan saat untuk bersedih.
Aku tahu Bumi telah menemukan pemahaman itu, dan sekarang ia sedang mengajariku pemahaman yang sama melalui hujan dan langit tanpa mentari. Bumi, dan juga alam semesta, mengerti bahwa mereka harus melewati musim ini agar dapat terus berputar ke musim selanjutnya. Mereka mengerti bahwa setiap musim memiliki keindahan, pesona, dan kekuatannya masing-masing. Dan kalau Bumi bisa melalui musim gugur dan musim dingin dengan indah dan bersahaja, maka aku juga pasti bisa.
Di dalam kegelapan tanpa cahaya, aku telah menemukan kekuatan baru. Kekuatan yang berasal dari pemahaman bahwa kesedihan di musim gugur ini, pasti akan diikuti oleh kebahagiaan di musim semi. Dan semua itu membuatku tenang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar