Minggu, 23 Januari 2011

Musim di Jiwa

Belum lama ini, kehidupanku berada di sebuah titik kebahagiaan yang terendah. Hampir setiap hari aku menangis dengan alasan yang bahkan sama sekali tidak kupahami. Jiwaku jatuh ke dalam dinginnya kegelapan dan membeku tanpa cahaya matahari. Berulang kali aku terus bertanya kepada Tuhan dan diriku sendiri, "Apa yang membuat hidupku seperti ini? Mengapa kekuatanku tidak mampu lagi membendung air mata ini? Mengapa duniaku menjadi abu-abu kusam tanpa warna? Mengapa cahaya, senyuman, dan langit biru berlari meninggalkanku? Mengapa nada-nada indah yang terdengar di telingaku menjelma menjadi elegi?"

Pada akhirnya, Tuhan bahkan tidak sudi berbicara kepadaku lagi. Tiap kali aku berbicara dan berdoa kepadanya, yang kudengar hanyalah keheningan panjang. Aku mulai mengasihani diriku sendiri. Aku marah kepada diriku sendiri. Aku marah karena membiarkan diriku jatuh ke dalam kegelapan. Aku marah karena kekuatanku ikut luntur bersama air mata.

Lama aku berjalan di dalam kegelapan, mencari-cari cahaya tanpa arah. Bulan terus berganti dan akhirnya langit pun perlahan-lahan menjadi kelabu. Angin dingin berhembus menggugurkan dedaunan kering, burung-burung gereja terbang lebih rendah daripada pepohonan, dan gemuruh guntur menggelegar tanpa henti. Tak lama kemudian hujan mulai turun, tumpah membasahi dunia. Namun semua itu sama sekali tidak menggangguku. Tidak ada bedanya. Sejak awal duniaku sudah kelabu.

Namun kini aku dapat mendengar suara lain di antara lantunan elegi. Suara hujan. Bumi sedang menangis, dan aku berpikir alangkah baiknya kalau aku bisa bersedih bersama Bumi. Mungkin Bumi bisa memahamiku. Aku berdiri di ambang jendela, meresapi suara hujan itu dalam-dalam. Tapi... tidak ada kesedihan yang berhasil kutangkap di antara irama hujan yang semakin lama semakin deras. Aku bingung, dan merasa semakin kesepian.

Perhatianku tertuju pada bunga bougenvile yang kutanam di samping kamarku. Daunnya menguning, bahkan sudah ada beberapa yang gugur. Namun aku sama sekali tidak khawatir. Aku tahu bougenvile itu akan bertahan dan tetap hidup melewati musim tanpa matahari ini.  "Jangan khawatir, kau akan bertahan," kataku pelan kepada bougenvile itu. Tiba-tiba aku mendengar sebuah suara. Suara jawaban dari pohon bougenvile yang menjelma menjadi suara keyakinan dan kekuatanku yang baru, "Kau juga akan bertahan, kan?"

Kemudian aku mulai memahami segalanya. Benar. Alam semesta, bumi, alam, dan semua yang hidup memiliki siklus mereka masing-masing. Alam semesta, bumi, alam, dan semua yang hidup memiliki musim mereka masing-masing. Termasuk aku. Termasuk ragaku. Termasuk hatiku. Termasuk jiwaku.

Aku juga harus melewati semua ini. Momen-momen kesedihan dan kesendirian musim gugur, diikuti dengan membekunya hati oleh salju musim dingin. Ya, seluruh manusia juga harus melewatinya. Tuhan telah mengirimkan musim kepada semua kehidupan untuk memberi kita pelajaran bahwa segala sesuatu pasti memiliki akhir. Namun di sisi lain, aku menjadi sangat lega dan bersyukur saat aku menemukan bahwa jiwaku juga memiliki musimnya sendiri. Musim berbunga, dan juga musim gugur. Saat untuk berbahagia, dan saat untuk bersedih.

Aku tahu Bumi telah menemukan pemahaman itu, dan sekarang ia sedang mengajariku pemahaman yang sama melalui hujan dan langit tanpa mentari. Bumi, dan juga alam semesta, mengerti bahwa mereka harus melewati musim ini agar dapat terus berputar ke musim selanjutnya. Mereka mengerti bahwa setiap musim memiliki keindahan, pesona, dan kekuatannya masing-masing. Dan kalau Bumi bisa melalui musim gugur dan musim dingin dengan indah dan bersahaja, maka aku juga pasti bisa.

Di dalam kegelapan tanpa cahaya, aku telah menemukan kekuatan baru. Kekuatan yang berasal dari pemahaman bahwa kesedihan di musim gugur ini, pasti akan diikuti oleh kebahagiaan di musim semi. Dan semua itu membuatku tenang.

Tuhan, Aku Siap untuk Berubah

Dulu, salah seorang sahabatku pernah mencoba untuk mengubahku, menjadikanku mirip sepertinya, melakukan apa yang dilakukannya, dan berpikir seperti apa yang dipikirkannya. Saat itu jiwaku masih labil dan mudah terpengaruh, namun satu hal yang tidak pernah berubah dariku sejak aku masih kecil adalah kekeraskepalaanku. Aku tidak suka mengikuti arus. Aku lebih suka “berenang” ke arah yang kuinginkan, ke dasar lautan yang paling gelap dan misterius, atau ke permukaan gelombang yang hangat oleh cahaya mentari. Karena itu, aku sangat sakit hati ketika menyadari maksud sahabatku yang sebenarnya, apalagi dia mencoba mengubahku dengan cara meminta orang lain untuk terus-terusan menyindirku.

Sejak saat itu aku tidak pernah mencoba untuk mengubah orang lain karena aku sangat mengerti bagaimana sakitnya perasaanku saat orang lain mencoba untuk mengubahku. Namun, ternyata “mencoba untuk tidak mengubah orang lain” itu sangat sulit, karena seringkali aku menemukan beberapa hal yang tidak kusukai dari orang-orang di sekelilingku.

Dulu, tiap kali aku bersosialisasi dengan teman-teman dan bahkan keluargaku, tanpa sadar aku selalu mencaritahu kelemahan mereka dan menghakimi mereka berdasarkan kelemahan yang bahkan mungkin sama sekali tidak dianggap sebagai kelemahan oleh orang yang bersangkutan. Tanpa sadar aku merendahkan dan bahkan menjatuhkan orang lain dengan pemikiranku, padahal pada kenyataannya akulah yang telah terjatuh paling dalam karena telah memiliki pemikiran senegatif itu. Sejak saat itu, aku selalu melangkah ke ketidaksempurnaan yang satu ke ketidaksempurnaan yang lain.

Aku mulai merasa lelah dengan semua itu. Aku lelah dengan keterbatasan manusia (terutama keterbatasanku sendiri). Aku lelah dengan sifat buruk orang-orang di sekelilingku (terutama sifat burukku sendiri). Dan aku lelah dengan kekurangan orang-orang di sekelilingku (terutama kekuranganku sendiri). Aku marah. Aku marah kepada diriku sendiri. Aku melampiaskan kemarahanku kepada Tuhan, meminta agar Ia mengubahku, mengambil kelemahan-kelemahanku, dan menjadikanku manusia super tanpa kekurangan dan sifat buruk.

Pada saat itu, Tuhan tidak menanggapi permintaan konyolku (tentu saja), bukan karena Tuhan tidak bisa melakukannya, tapi karena aku belum siap untuk berubah (bahkan meskipun aku sangat ingin berubah). Kemudian, aku menemukan “mereka”. Saudari-saudari spiritual-ku, begitulah aku menyebut mereka. Saat aku bertemu mereka, Tuhan seolah sedang menyatakan sesuatu kepadaku, “Kau belum siap untuk berubah, tapi Aku akan memberikan sesuatu yang kau butuhkan untuk berubah. Pada akhirnya, semuanya tetap menjadi pilihanmu.

Saudari-saudari spiritualku adalah orang-orang baru bagiku, dan mereka pun belum mengenalku. Namun mereka mau menerima keberadaanku lebih dibandingkan aku menerima diriku sendiri. Mereka menerima kelemahanku di saat aku menolak kelemahanku sendiri. Mereka selalu mengangkatku, membuatku melihat potensi-potensi berharga yang kumiliki (namun potensi-potensi tersebut kerap kuabaikan karena aku terlalu berfokus pada kelemahanku).

Seumur hidupku, belum pernah aku merasakan keberadaanku begitu berarti bagi orang-orang di sekelilingku. Perlahan-lahan, aku mulai mencoba untuk mengubah sudut pandangku seperti sudut pandang saudari-saudari spiritualku. Satu per satu aku mulai dekat dengan mereka dan menemukan bahwa mereka adalah orang-orang luar biasa yang keberadaannya telah banyak mengubah kehidupan orang-orang di sekeliling mereka ke arah yang lebih positif. Mereka tetap manusia biasa, dengan kekurangan dan kelebihan mereka, dan tentu saja memiliki masalah mereka masing-masing. Namun semua itu tidak menghentikan mereka untuk mengangkat orang-orang di sekeliling mereka. Dan mereka juga telah mengangkatku.

Mereka tidak pernah mencoba untuk mengubahku, namun apa yang telah mereka tunjukkan kepadaku membuatku ingin menjadi seperti mereka. Awalnya memang sulit, terutama karena selama ini aku selalu melihat orang lain dari kelemahan-kelemahan mereka. Tiap kali aku mencoba, pikiranku selalu mengatakan, “Dia memiliki ego yang besar,” atau, “Tingkahnya menyebalkan,” atau, “Sikapnya sangat kekanakkan”. Lalu aku mencoba untuk memasukkan kata “tapi” di dalam setiap penilaianku. “Dia memiliki ego yang besar, TAPI dia sangat loyal kepada sahabatnya,” dan, “Tingkahnya menyebalkan, TAPI sebenarnya dia sangat peduli pada orang lain,” dan, “Dia kekanakkan, TAPI kata-katanya selalu membuatku tertawa.

Pada akhirnya, aku tidak lagi melihat sebuah kelemahan sebagai kelemahan, namun HANYA sebagai karakter seseorang. Kelemahan atau kelebihan adalah penilaian yang subyektif. Beberapa orang menganggap “perasaan yang sensitif” sebagai sebuah kelemahan, namun jika memiliki arah yang benar, “perasaan yang sensitif” dapat menjadi sebuah kelebihan. Kata TAPI menghilang dari penilaianku, dan aku mulai melihat orang-orang di sekelilingku dari sudut pandang yang lebih positif.

ADIKKU pintar berbicara dan ia mampu mempengaruhi orang lain dengan kemampuannya itu. Ada pola humor yang sering membuatku tertawa di dalam sikap & cerita-cerita yang ia paparkan kepadaku.”
IBU yang kumiliki adalah ibu yang terbaik karena yang ia inginkan hanyalah kebahagiaan anak-anaknya.”
ANNISA memiliki pemikiran yang dewasa, jauh lebih dewasa dibandingkan denganku. Aku punya banyak memori masa kecil yang berharga dengannya, tentang petualangan-petualangan & juga kisah cinta.”
ANGGITA selalu memiliki rencana yang menyenangkan dan aku senang ‘berpetualang’ dengannya. Ia adalah salah satu orang paling tangguh yang pernah kukenal.”
BAYU adalah pemberi dukungan yang baik. Aku senang meminta dukungannya saat aku ingin melakukan sesuatu yang nekat.”
JEAN memiliki humor yang ‘pintar’ dan aku sering tertawa saat membaca tulisan-tulisannya, ia begitu bijaksana dan berkali-kali telah membantuku melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.”
ARMAN memiliki sudut pandang yang ‘damai’ dalam melihat kehidupan, ia selalu mengingatkanku untuk lebih menikmati, menghargai, dan mensyukuri hidup.” 
ALES memiliki pikiran yang terbuka. Terkadang ia berpikir “di luar kotak” dan aku selalu melihat ada sesuatu yang menyegarkan dan menarik dari setiap pemikirannya.
IZZA memiliki kemampuan untuk menularkan semangat hidupnya kepada orang-orang di sekelilingnya.”
“Mba DEKE adalah teman bicara yang menyenangkan dan memiliki kemampuan untuk berbaur dengan siapa saja. Ia pandai menempatkan dirinya dalam berbagai situasi.”
“Mba OLIN begitu bijaksana dalam menyikapi kehidupan, dan aku senang mendengarkannya saat ia sedang menguraikan sudut pandangnya dalam melihat suatu masalah.”
“Mba PADMI begitu nyaman menjadi dirinya sendiri tanpa terpengaruh oleh pendapat orang lain, dan aku berharap bisa melakukan hal sama pada diriku sendiri.”
“Mas SAPTO memiliki ketegaran yang luar biasa dan tidak mudah roboh saat badai masalah menyerangnya. Pemikirannya begitu hati-hati dan penuh pertimbangan yang matang.”
“Mas ENDI selalu dapat menyelipkan humor dalam kata-katanya, dan aku selalu tertawa tiap kali mendengar atau membaca celetukan-celetukannya, bahkan meskipun aku sedang tidak ingin tertawa.”

Kemudian aku juga mulai memahami bahwa sebenarnya semua orang sudah lelah menerima kritikan. Mereka telah mengkritik diri mereka sendiri (baik secara sadar ataupun tidak sadar) tiap kali mereka melakukan kesalahan atau kegagalan, dan mereka tidak lagi membutuhkan kritik dari orang lain. Yang mereka butuhkan adalah dukungan, pengertian, pemahaman, atau bahkan hanya sebuah senyuman tulus yang mengatakan, “Terima kasih karena telah melakukan yang terbaik.

Aku masih tidak ingin mengubah orang lain, namun aku ingin orang lain merasakan apa yang selama ini sudah kurasakan saat saudari-saudari spiritualku mengangkatku. Menemukan kelemahan orang lain memang menyenangkan, namun mencari kelebihan orang lain ternyata jauh lebih menyenangkan. Aku selalu tersenyum setiap kali menemukan kelebihan-kelebihan dalam diri seseorang dan selalu berkata, Ah, akhirnya aku dapat melihat cahayanya.

Kemudian, aku kembali teringat dengan permintaanku kepada Tuhan. Dan saat akhirnya aku merasa sudah siap untuk berubah, aku kembali kepada Tuhan dan berkata, “Tuhan, aku sudah siap untuk berubah.” Dalam pernyataan singkatku itu aku mendengar suara tawa Tuhan, “Kau sudah berubah,” kataNya lembut.

Surat untuk Sahabat

Sahabatku yang baik,

Aku sangat memahami kebosananmu, karena dulu aku juga pernah merasakan kebosanan seperti itu (bahkan kreativitas sudah tidak bisa menolongku lagi). Sahabatku, kalau sampai saat ini ada satu hal yang dapat kusyukuri, itu adalah keberadaanmu. Aku sangat bersyukur karena aku menemukan seorang sahabat yang begitu mempercayai Tuhan, dan aku tahu kau tidak akan pernah meremehkan mimpi dan harapan orang lain.

Sahabatku, selama ini kau banyak berdoa dan berbicara kepada Tuhan. Aku paham saat kau berkata kalau Tuhan akan menjawab dengan indah tepat pada waktunya. Tapi Sahabatku, terkadang kita sendirilah yang harus menciptakan waktu dan momen indah itu. Terkadang, Tuhan hanya memberi kita peluang untuk menciptakan waktu dan momen indah itu. Jangan lupa untuk mendengarkan Tuhan juga, Sahabatku. Sebab terkadang kita terlalu sibuk berbicara, memohon, dan berdoa, sampai kita tidak menyadari bahwa sebenarnya Tuhan sudah menjawab doa kita. Sebentar saja, cobalah berhenti berpikir, merencanakan, dan mempertimbangkan. Sebentar saja, cobalah untuk menerima apa yang sudah disodorkan oleh kehidupan kepada kita.

Sahabatku, masih ingat saat kita dulu ulang tahun dan teman-teman memberi kita kado yang besar? Saat kita buka pita dan kertas pembungkusnya yang indah, ternyata masih ada kertas pembungkus lain dari koran, dan terus seperti itu. Pada akhirnya, yang tersisa adalah sebuah kotak kecil. Aku ingat teman kita bahkan menyembunyikan kado itu di antara potongan-potongan kertas koran di dalam kotak. Dan pada akhirnya, saat aku menemukan kado yang sesungguhnya, aku akan tertawa sambil berkata, "Oh, ternyata ada di sini". Kejutan lainnya adalah saat sang pemberi hadiah bertanya, "Apa kau sudah membaca kertas ucapannya?" Saat itu aku menganggap semua kertas-kertas koran itu sebagai sampah, tapi ternyata masih ada kejutan lain di dalamnya, ucapan selamat ulang tahun yang tulus dari seorang teman. Dan untungnya, aku belum sempat membuang kertas-kertas itu.

Sahabatku, terkadang Tuhan juga memberi jawaban dengan cara yang sama. Kita harus membuka kertas pembungkusnya satu per satu, sambil sesekali mencari kejutan-kejutan kecil di antara kertas-kertas tersebut. Hadiah utamanya, adalah jawaban dari Tuhan untuk doa-doamu selama ini, Sahabatku, sesuatu yang benar-benar kau butuhkan. Dan kejutan-kejutan kecil yang kau temukan di antara kertas-kertas pembungkus itu adalah kebahagian-kebahagiaan yang akan kau dapatkan di sepanjang perjalananmu membuka kado tersebut.

Jadi, jangan menyerah saat perjalananmu membuka kado menjadi membosankan, Sahabatku. Carilah hadiah-hadiah kecil yang diselipkan oleh Tuhan di sepanjang perjalanan itu. Perhatikan, dengarkan, rasakan, tapi jangan dipikirkan atau dipertimbangkan. Kita sama sekali tidak memerlukan alasan untuk berbahagia, sebab selama ini Tuhan telah menghadiahkannya kepada kita, bahkan sebelum kita sempat menemukan kado utamanya. Sesekali, lihatlah hidup sebagaimana adanya, Sahabatku. Alam semesta tidak pernah memberikan kita sesuatu yang membosankan. Tapi saat kita bosan, itu berarti kita lupa bagaimana cara menikmati hidup yang sebenarnya.

Minggu, 05 Desember 2010

Biarkan Orang Lain Mengangkat Kita

Kehidupanku benar-benar sebuah anugerah, karena bahkan Tuhan tidak pernah berhenti menyentuh hatiku di saat aku merasa sangat bosan dengan kehidupanku yang monoton. Tuhan telah memberkatiku dengan kehadiran manusia-manusia luar biasa di sekelilingku. Dan hari ini, aku kembali menemukan sebuah jiwa yang memiliki cahaya indah.
Beberapa bulan yang lalu, teman Facebook-ku pernah bercerita kepadaku kalau ia tidak dapat menggunakan ego-nya saat berhadapan dengan keluarganya. Aku tidak menyalahkan sikapnya. Sebaliknya, aku justru mengagumi keputusannya untuk ‘berkorban’ demi keluarganya. Hari ini pun, aku menemukan orang yang memiliki cahaya yang sama dengan teman Facebook-ku. Ia bahkan rela mengorbankan dirinya demi melindungi orang yang sudah melukainya.
Sejujurnya, awalnya aku menganggap kalau temanku ini memiliki ‘standar ganda’ dalam menjalani hidupnya. Namun tampaknya kali ini aku kembali menjadi seseorang yang terlalu cepat menghakimi orang lain. Pelajaran yang kudapatkan dari kejadian ini adalah: “Jangan terlalu cepat mempercayai perkataan orang lain, terutama jika mereka membicarakan keburukan diri mereka sendiri.” Benar, aku tidak berhak menghakimi orang lain hanya berdasarkan pada kata-kata mereka, karena seringkali aku tidak memahami tujuan dan maksud mereka saat mereka mengatakan kata-kata itu.
Bagiku, seorang pahlawan bukanlah mereka yang berdiri dengan gagah berani di medan perang dan menyelamatkan kita dari musuh yang mengancam. Pahlawan yang sebenarnya adalah mereka yang rela membuang ego mereka dan membiarkan diri mereka terinjak-injak & menderita demi membela orang yang mereka kasihi, orang yang sama sekali tidak mereka kenal, atau bahkan orang lain yang telah menyakiti mereka. Saat mereka berhasil mengalahkan ego mereka, maka mereka telah ‘mengangkat’ orang lain. ‘Mengangkat’ orang yang kita kasihi dan membiarkan diri kita menjadi batu injakan mereka bukanlah tugas yang mudah. Dan ‘mengangkat’ orang yang telah melukai kita dan membiarkan diri kita menjadi batu injakan adalah tugas yang nyaris mustahil. Namun temanku berhasil melakukannya.
Masalah umum yang kerap kita temui pada sosok seorang pahlawan sejati adalah: “mereka enggan menyerah”. Pahlawan sejati sangat loyal, dan bahkan akan terus melanjutkan misi mereka selama udara masih mengalir di paru-paru mereka. Mereka begitu kuat dalam kerendahan hati mereka, hingga mereka enggan merepotkan orang lain, bahkan meskipun mereka benar-benar membutuhkan bantuan. Para pahlawan kerap melupakan fakta bahwa mereka juga hanyalah seorang manusia biasa, meskipun mereka memiliki jiwa seorang malaikat.

Tiap-tiap manusia yang ada di dunia ini memiliki perjalanan hidup mereka masing-masing. Meskipun begitu, jalan yang kita tempuh bukanlah jalan lurus, melainkan jalan bercabang yang seringkali mempertemukan kita dengan jalan manusia lain (dan aku sangat bersyukur karena percabangan jalanku telah mempertemukanku dengan banyak sahabat dan teman-teman yang baik). Terkadang perjalanan kita mulus, penuh dengan cahaya matahari, dan semilir angin segar. Namun ada kalanya perjalanan kita penuh lubang, gelombang badai besar, dan bahkan terhadang oleh gunung yang menjulang tinggi.
Kita semua telah melakukan tugas-tugas hebat selama hidup di dunia ini. Beberapa dari kita telah melindungi, menjaga, dan merawat orang-orang di sekeliling kita. Ada yang mengorbankan ego demi kebahagiaan orang lain, dan ada mendedikasikan hidup mereka untuk orang-orang yang mereka sayangi. Namun saat kita menemui sebuah gunung besar menghadang perjalanan kita, kita harus mengakui kalau mungkin kita tidak terlalu kuat untuk mendakinya seorang diri.
Para pahlawan mendedikasikan hidup mereka untuk menolong dan melindungi orang-orang di sekitar mereka. Namun terkadang mereka lupa kalau sebenarnya merekalah yang membutuhkan bantuan. Terkadang mereka lupa kalau Tuhan mencoba untuk menolong mereka melalui orang-orang di sekeliling mereka. Benar, masing-masing manusia memang memiliki perjalanan hidupnya masing-masing, namun terkadang kita harus memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berbuat baik kepada kita.
Terkadang kita harus membiarkan orang lain menarik kita dari tepi jurang kegelapan. Terkadang kita harus membiarkan orang lain menuntun kita saat mata kita dibutakan oleh rasa sakit dan kesedihan. Dan bahkan terkadang kita harus membiarkan orang lain menghalangi langkah kita saat jalan di depan kita dipenuhi oleh kabut hitam. 
Terkadang… kita harus membiarkan orang lain mengangkat kita agar kita dapat mendaki gunung dan melanjutkan perjalanan.

Marilyn Monroe pernah mengatakan kalau setiap manusia adalah bintang, dan mereka memiliki hak untuk bersinar. Dan malam ini, temanku adalah bintang yang sinarnya paling cemerlang di langit malam.


***Catatan ini kudedikasikan untuk “K” (teman Friendster & Facebook-ku), “H.P” (teman kuliahku), & My Spiritual Sisters, yang telah mendedikasikan kehidupan mereka yang mulia untuk mengangkat orang-orang di sekeliling mereka.

Kamis, 02 Desember 2010

Kacamata Pelangi


Aku begitu bersyukur karena hidupku dikelilingi oleh orang-orang yang menarik, yang dapat menjadikan duniaku jauh lebih berwarna. Selama ini aku selalu mencoba untuk membayangkan diriku berdiri di posisi orang lain, “memakai sepatu & kacamata mereka”, karena dengan cara seperti itu aku mampu memahami dan mengerti mereka. Dan seringkali pemahaman yang kutemukan membawaku ke dalam perasaan dan emosi yang beragam dan menarik.
Aku menyukai cara tertawa salah seorang temanku. Saat dia tertawa, aku merasakan adanya ungkapan yang jauh lebih dalam dan bermakna di balik tawanya. Suara tawanya penuh dengan pemahaman, seolah akhirnya dia berhasil melihat sebuah kejadian atau kisah dari sudut pandang yang lebih ringan dan menyegarkan. Temanku adalah seorang pejuang (atau seperti itulah aku melihatnya). Hidupnya dipenuhi target dan setiap langkah yang diambilnya adalah tahap-tahap perjalanan untuk menggapai mimpi-mimpinya. Dan caranya tertawalah yang telah membantuku untuk menemukan hal lain dari dirinya. Suara tertawanya mampu membuatku merasa tenang, karena ternyata ia masih dapat melihat kehidupan dan dunia sebagai sebuah gurauan dan tempat bermain.
Aku juga menyukai cara sahabat dan adikku bercerita. Sahabatku adalah orang yang tangguh namun tidak pernah lupa untuk bersyukur. Ia menginginkan kehidupan normal lebih dari siapapun yang pernah kutemui, dan aku sangat memahami alasannya. Ia juga telah mengajariku banyak hal tentang kehidupan. Dan salah satu kelebihannya yang paling kusukai adalah, ia mampu menceritakan kisah-kisah datar dalam kehidupan sehari-harinya menjadi sesuatu yang lucu dan menyegarkan. Jika aku melihat kejadiannya secara nyata, mungkin aku tidak akan tertawa atau bahkan menganggap semua itu sebagai kejadian yang lucu. Namun ketika kejadian itu dikisahkan kembali melalui sudut pandang sahabatku, ada kesegaran baru yang selalu dapat membuatku tersenyum lebar dan bahkan tertawa lepas.
Adikku lebih sering menceritakan film-film yang baru saja ia tonton. Dia orang yang sangat senang berbicara. Bahkan ketika ia melihatku sedang berkonsentrasi pada hal lain, ia tetap saja berbicara hingga terkadang aku tertawa melihat sikapnya. Tiap kali adikku tertarik pada film yang baru ia tonton, ia akan merekomendasikannya kepadaku dan menceritakan isi film tersebut. Dan ceritanya selalu menarik hingga membuatku penasaran ingin menonton film tersebut. Terkadang aku memang menonton film yang direkomendasikan olehnya, namun sejujurnya aku lebih senang kalau ia menceritakan isi film tersebut secara langsung. Sebab seringkali saat aku menonton film-film tersebut, ternyata jalan ceritanya tidak semenarik apa yang sudah diceritakan oleh adikku.
Aku sendiri tidak begitu pintar berbicara, dan sebenarnya aku sangat payah. Aku lebih banyak diam dan mengobservasi sekelilingku. Namun aku suka mendramatisir segala hal, terutama tulisan-tulisanku. Aku melakukan semua itu tanpa sadar dan bahkan tanpa tahu bagaimana caranya (dan aku juga baru menyadarinya akhir-akhir ini). Beberapa hari yang lalu aku mengirim SMS kepada temanku. Dalam SMS itu aku menceritakan kronologi sebuah kejadian yang baru saja kualami. Sebenarnya jika dia melihat kejadian itu secara langsung, mungkin dia akan tertawa karena sebenarnya kejadian tersebut sangat konyol dan memalukan. Tapi entah kenapa dia malah menganggap kejadian yang kualami itu mirip dengan sinetron.
Dulu, saat aku masih sekolah, aku sering melakukan ‘petualangan’ dengan sahabat masa kecilku (yang tentu saja masih menjadi sahabatku sampai sekarang). Setiap sore kami bertemu dan berkelana dengan motor, menyusuri gang-gang kecil yang belum pernah kami lewati sebelumnya. Kami sama sekali tidak takut tersesat selama kami masih bersama-sama. Terkadang kami membuntuti cowo-cowo yang kami sukai, beraksi seperti detektif, dan buru-buru menyembunyikan keberadaan kami saat cowo itu merasa dibuntuti (kami juga pernah ketahuan, tapi lalu kami memasang wajah polos seolah tidak tahu apa-apa). Kami menciptakan drama kami sendiri di sore yang tenang dan membosankan. Mungkin orang-orang di sekeliling kami hanya akan melihat kami sebagai dua orang remaja perempuan yang sedang bermain atau berjalan-jalan sore. Tapi di dalam jiwa terdalam kami, kami tahu kalau kami sedang berpetualang. Naluri petualangan itu pun masih melekat kuat di dalam jiwaku sampai saat ini (meskipun aku memiliki tingkat keparahan yang luar biasa dalam menebak dan menghapal arah).
Adikku, sahabat-sahabatku, dan temanku, mereka hanyalah beberapa dari banyak manusia ekspresif yang kukenal. Mereka adalah para seniman kehidupan yang mampu mewarnai duniaku dan dunia orang-orang di sekeliling mereka dengan kombinasi warna indah yang mampu membuat kita tersenyum (bahkan meskipun mereka tidak menyadarinya). Mereka adalah manusia-manusia berharga yang mampu membuat kita melupakan keras pahitnya kehidupan. Dan mereka membuatku menyadari bahwa segala sesuatu tidak selalu hitam, putih, atau kelabu. Terkadang kita harus menunggu untuk menyaksikan warna apa yang akan muncul dari balik garis perak awan-awan mendung.
Mungkin, semua yang telah mereka kisahkan kepadaku, apa yang dapat kutangkap dari ekspresi mereka, dan petualangan yang kuciptakan bersama mereka, semua itu dilihat dari sudut pandang yang subjektif. Namun kalau semua itu dapat menjadikan duniaku lebih berwarna dan cerah, aku sama sekali tidak keberatan memakai kacamata pelangi mereka. Lagipula, bukankah tiap karya seni pada mulanya adalah sudut pandang subjektif dari para penciptanya, seperti manusia yang diciptakan melalui kacamata pelangi Tuhan?

Sendirian...

Aku di sini,
Berdiri di antara hari-hari,
Yang tidak pernah berhenti berlari.

Di dalam tubuhku tersimpan sejarah,
Warisan dari akar-akar masa lalu,
Hidup dan bergejolak bagai badai,
Namun tenggelam di dasar jiwaku.

Ada senandung nyanyian dalam keabadian,
Di tiap hembusan angin dan sapaan angan,
Iramanya memanggilku kembali pulang,
Melampaui tanah dan waktu seberang.

Aku melihat tarian-tarian indah alam,
Di siang yang paling terang dan malam yang paling kelam,
Menggodaku dalam tiap gerakan,
Meraihku untuk berdansa bersama rembulan.

Aku mendengar suara tawa lembut,
Dari balik kelambu malam berkabut,
Menyusup ke dalam mimpi-mimpi terdalamku,
Memberkatiku dengan rahasia-rahasia semesta.

Namun terkadang ingin kusangkal,
Hal-hal yang hanya dapat kusaksikan sendirian,
Kadang kuharap jiwaku lebih dangkal,
Tanpa pernah memikirkan pelajaran atau perjalanan.

Terkadang aku ingin melihat mentari yang sama,
Berjalan dan berlari di antara jiwa-jiwa muda,
Namun panggilan pulang tak dapat kutolak,
Karena keindahannya mampu menggetarkan cinta.

Tapi aku sangat lelah dan masih muda,
Untuk menjadi begitu kaya dan tua.
Di masaku kini pencerahan tak lagi berharga,
Hanya memisahkanku dari jiwa lain yang ada.

Kata-kataku kehilangan makna,
Orang-orang menganggapku tak nyata,
Karena aku tak berlari secepat mereka,
Di jalan yang penuh lubang dan tak rata.

Aku masih di sini,
Berdiri di antara hari-hari,
Menjaga sejarah yang terlupakan,
Sendirian…

Senin, 29 November 2010

Empati, Anugerah atau Kutukan?

Aku mengagumi orang-orang yang memiliki empati besar (aku menyebut mereka “Empath”) dan bersedia menolong siapa saja yang ada di sekitar mereka. Aku selalu mencoba untuk menjadi orang seperti itu. Awalnya, aku bersikap empati karena aku tidak memiliki pilihan. Beberapa tahun yang lalu saat aku masih kuliah S1, teman-temanku sering datang mencariku saat mereka memiliki masalah dan ingin berbagi denganku. Mula-mula aku tidak keberatan (meskipun saat itu aku sama sekali belum mengerti mengapa mereka mau mempercayakan masalah mereka kepadaku). Namun kemudian aku menemukan diriku seringkali stres, bukan karena memikirkan masalahku sendiri, namun justru karena memikirkan masalah teman-temanku. Aku menyerap perasaan mereka saat mereka curhat denganku, dan menganggapnya sebagai perasaanku sendiri. Kemudian dalam satu langkah radikal untuk menyelamatkan diri sendiri, aku memutuskan untuk menjauh dari teman-temanku. Sayangnya, sebagian dari mereka tidak memahami kestresanku dan terus mencariku, hingga aku harus selalu memasang ekspresi wajah “JANGAN MENDEKATIKU” tiap kali aku kuliah. Saat itu aku begitu membenci diriku sendiri dan menganggap semua yang terjadi padaku adalah kutukan. Buku harianku dipenuhi oleh kenegatifan, kestresan, kata-kata kasar, dan sarkasme.
Itu kisahku dulu, sebelum aku mencoba untuk menerima empati sebagai bagian dari diriku dan anugerah dari Tuhan. Sekarang, setelah aku menerima anugerah itu, terkadang aku masih stres (dan bahkan ikut menangis) saat ada teman yang menceritakan masalah mereka kepadaku. Namun aku selalu mencoba untuk menanggapinya dengan bijak (meskipun aku tahu kalau aku tidak sebijak itu). Beberapa “saudari”ku telah membantuku untuk menerima & menggunakan anugerah itu secara wajar, agar aku dapat menolong orang lain tanpa melukai diriku sendiri, atau bahkan orang-orang yang dekat denganku.
Tidak semua orang di dunia ini memiliki empati yang besar. Setiap manusia memiliki empati dan dapat menjadi Empath, namun tidak semua manusia ingin memaksimalkan anugerah itu. Itu bukan kesalahan, karena setiap manusia memiliki pandangan dan prioritas yang berbeda dalam kehidupan. Dulu aku seringkali berempati kepada orang lain dengan harapan bahwa mereka juga dapat berempati kepadaku. Tapi kemudian aku menyadari bahwa sikapku salah. “Berempati kepada orang lain” adalah pilihanku, bukan pilihan teman-teman atau bahkan keluargaku.
Aku juga menemukan bahwa bahkan Empath seringkali menyia-nyiakan harta mereka yang paling berharga (termasuk aku). Keluarga. Harus kuakui kalau dalam perjalanan hidupku, aku begitu memfokuskan empatiku kepada sahabat, teman-teman, dan orang-orang di sekelilingku hingga aku tidak lagi memiliki cukup empati untuk diberikan kepada keluargaku. Aku seringkali lupa bahwa mereka juga sama seperti sahabat, teman-teman, dan orang lain di sekelilingku. Mereka adalah manusia. Dan mereka, orang-orang yang kita sebut sebagai keluarga, juga ternyata memiliki pandangan dan prioritas yang berbeda dengan kita di dalam kehidupan. Kita tidak dapat menuntut mereka untuk memiliki pandangan dan prioritas yang sama seperti kita. Sebaliknya, seharusnya kita dapat lebih memahami mereka dengan empati kita.
Keluarga, apapun bentuk dan wujudnya, adalah salah satu harta manusia yang paling berharga yang pernah diberikan oleh Tuhan. Mungkin mereka tidak seperti yang kita inginkan, namun mereka adalah yang paling sempurna dan paling kita butuhkan selama kita hidup di dunia ini. Ayahku adalah sosok yang bijaksana dan menjadi panutanku. Ibuku berpikiran sederhana, namun selalu dapat menarikku kembali ke realita ketika aku terbang terlalu tinggi ke dunia mimpi. Adikku idealis yang berpikiran terbuka, sehingga ia mau menempatkan dirinya di dalam realita dunia. Aku membutuhkan semua itu. Aku membutuhkan orang-orang seperti mereka di dalam kehidupanku.
Tapi kenyataannya seringkali kita menyia-nyiakan mereka, menuntut mereka agar dapat memahami kita, dan bahkan bertindak egois kepada mereka. Kita seringkali berkata bahwa darah lebih kental dibandingkan air, namun kita justru lebih sering menyia-nyiakan darah dengan tikaman-tikaman kecil yang pada akhirnya dapat membunuh kita sendiri. Bahkan kita sering memanfaatkan mereka untuk membantu kita menolong orang lain tanpa pernah mempertimbangkan keadaan mereka. Sebaiknya kita mencoba untuk memahami keluarga kita terlebih dahulu, sebelum mencoba memahami orang lain.  Sebab keluarga adalah kehidupan terdekat yang berjalan di sebelah kita, meskipun tujuan akhir mereka mungkin tidak sama dengan tujuan akhir kita.
Empati adalah anugerah yang istimewa, namun dapat menjadi kutukan jika kita tidak tahu bagaimana cara mengontrol dan menggunakannya secara benar. Para Empath adalah salah satu dari mereka yang dapat menjadikan dunia ini sebagai tempat yang lebih lembut bagi kehidupan-kehidupan lain yang ada di dalamnya. Mengenal seorang Empath adalah sebuah keberuntungan, dan menjadi seorang Empath adalah sebuah anugerah. Jadi, para Empath yang mengagumkan di luar sana, tolong pikirkan lagi baik-baik:
“Berempati kepada orang lain, namun bersikap egois kepada keluarga?”
“Menolong orang lain dengan cara melukai orang lain?”
Apakah hati kalian tidak merasa sakit saat merenungi semua itu?

Istana Pasir

From: Tabloid Wanita Indonesia no. 679

Mentari terik menyengat. Udara segar, ombak mengalun. Seorang anak berlutut menggali dan memasukkan pasir dengan sekop plastik ke dalam ember birunya. Setelah penuh, dipadatkannya pasir tersebut, lalu dibalikkannyalah embernya. Seperti seorang arsitek kecil, terciptalah sebuah istana pasir. Sepanjang sore dia bekerja tak kenal lelah. Ujung botol menjadi menara, gagang es krim menjadi jembatan.
Kota besar, jalanan yang sibuk, lalu lintas padat. Seorang pria di dalam kantornya. Di atas meja, tertumpuk koran dan berkas kerja. Menjepit telepon pada bahu sambil menekan tombol komputer. Angka telah terjumlah, kontrak yang disetujui menyenangkan hatinya karena telah berhasil membuat kuntungan. Hidup dihabiskannya untuk bekerja, mengatur jadwal kegiatan, meramalkan masa depan, Bonus menjadi pusat konsentrasinya, laba menjadi tujuan hidupnya, sebuah kerajaan telah dibangun.
Dua manusia, sama-sama membangun istana. Tampak memiliki persamaan. Tak peduli apapun yang terjadi, mereka tak bergeming mewujudkan tujuannya. Mereka cerdas, konsisten, dan keduanya akan terkenal luapan gelombang pasang yang membawa kehancuran. Saat itulah perbedaan muncul.
Si kecil akan menjadi saksi sebuah kehancuran, sementara sang pria mengabaikannya. Saat gelombang ombak menghampiri, anak yang bijaksana akan melompat dan bertepuk tangan tanpa adanya kesedihan ataupun takut. Dia tahu hal ini akan terjadi, sehingga tidak merasa terkejut menghadapinya. Saat kehancuran menimpa istana pasirnya, menghisap maha karya ciptaannya ke tengah lautan, dia tersenyum. Hanya tersenyum, mengambil peralatannya, menggandeng tangan ayahnya lalu pulang.
Sang pria, tampaknya kurang bijaksana. Gelombang tahun menghancurkan kerajaannya, membuatnya ketakutan. Setengah mati dia berusaha melindungi istananya dengan menghadang gelombang agar menjauh dari dinding yang telah dibangunnya. Malang tak dapat ditolak. Sang pria hanya bisa merintih sedih “Istanaku!” Samudera tak perlu memberi jawaban. Alam telah mengatur, dari mana asal pasir istana tersebut…
Mungkin anda tidak tahu banyak tentang istana pasir, namun anak-anak tahu. Perhatikan dan pelajari. Bangunlah semua impian, namun tetap dengan kesadaran dan perasaan seorang anak. Saat matahari terbenam dan ombak pasang datang, bersyukurlah karena telah menyaksikan keagungan semesta, lalu pulang. “Seorang yang menganggap matahari sebagai sumber kebahagiaan tak pernah bersinar di tengah hujan.” Percayalah kepada mentari meskipun dia tak bersinar. Percayalah kepada cinta meski tak merasakannya. Percayalah kepada Yang Kuasa meskipun Dia diam.

Memaafkan Diri Sendiri

Ada yang mengatakan bahwa tugas manusia yang paling berat adalah berjabat tangan dengan dirinya sendiri. Dan akhir-akhir ini aku menemukan bahwa perkataan tersebut memang benar. Belum lama ini aku menyakiti seseorang dengan perasaanku sendiri. Aku menyerangnya dengan emosiku, pada saat yang salah dan dalam situasi yang salah. Setelah itu aku begitu marah dengan diriku sendiri. Aku terus-terusan menyesali semua kejadian yang aku tahu dapat kuhindari. Aku jatuh terpuruk dalam kesedihan selama berhari-hari dan ego-ku seringkali menguasaiku. Segala hal berusaha kulakukan agar aku dapat keluar dari situasi tersebut.
Aku menghabiskan waktuku untuk menulis, bersosialisasi dengan teman-temanku, menikmati hidup, dan mencoba untuk terus berpikir positif. Semua itu cukup untuk mengalihkan pikiranku, namun ketika malam menjelang dan tidak ada yang dapat kulakukan selain berbaring di tempat tidurku, kesedihan itu kembali menguasaiku. Aku berpikir keras untuk mencari cara agar orang tersebut mau memaafkanku.
Situasi memang kembali normal dan sama sekali tidak ada perubahan dalam interaksi kami, namun aku tahu dia berusaha menjaga jarak denganku, dan akupun kembali menutup diri darinya. Semua situasi negatif itu terasa seperti adegan slow motion dalam kehidupanku, dan aku tidak sabar untuk menekan tombol fast forward. Namun kemudian aku kembali berpikir, “Apa kira-kira yang akan terjadi jika aku menekan tombol fast forward?” Kelebatan bayangan-bayangan buruk segera menghantui pikiranku, membuatku enggan untuk menekan tombol fast forward. Namun aku masih di sini, terpuruk dalam kesedihanku.
Malam itu, dalam kesedihanku yang paling dalam hingga aku tidak dapat lagi melihat cahayaku sendiri, aku menangis kepada Tuhan. Tidak ada ucapan terima kasih, tidak ada rasa syukur, tidak ada ketulusan, hanya ego-ku. Aku lelah. Aku hanya ingin segera keluar dari situasi ini.
Setelah lelah menangis dan mengadu, aku terdiam di dalam kegelapan selama beberapa lama. Aku berusaha merenungi diriku sendiri, dan kembali kepada kesimpulan yang selama ini sering aku (dan orang-orang di sekelilingku) gunakan untuk mendeskripsikan diriku, “Aku terlalu keras kepada diriku sendiri. Lagi.” Kemudian hatiku kembali berbicara, “Kau sudah mengambil pelajaran dari kejadian ini. Sekarang adalah waktunya untuk memaafkan dirimu sendiri. Apapun kesalahan yang telah kau perbuat, itu adalah bagian dari dirimu. Terimalah dan maafkan. Setelah itu lanjutkan langkahmu.”
Permintaan yang sangat berat, mengingat kondisiku saat itu. Namun aku memutuskan untuk mencobanya. Perlahan-lahan aku berusaha mendalami semua kejadian itu dengan ingatan dan emosiku. Bukan sesuatu yang menyenangkan, namun kemudian aku jadi lebih memahami diriku sendiri dengan semua itu.
Lalu aku memfokuskan diriku pada rasa takutku. Aku takut tidak dimaafkan. Aku takut pada kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Aku takut pada bayangan-bayangan yang mungkin tidak akan pernah terjadi. Dan aku melepaskan semua itu. Aku melepaskannya kepada Tuhan, kepada kepasrahan. Tiap kali ketakutan itu menyerangku, aku selalu mengingatkan diriku sendiri bahwa semua ketakutanku itu sudah menjadi milik Tuhan dan aku tidak bisa mengambilnya lagi.
Perlahan-lahan aku menemukan kedamaian diriku kembali. Tidak ada kekhawatiran lagi. Fokusku pada “keberadaanku” di saat ini kembali pulih. Dan akhirnya, aku dapat menerima diriku kembali. Aku dapat melihat cahayaku kembali dan siap melanjutkan langkahku. Sampai saat ini aku tidak tahu apakah orang tersebut sudah memaafkanku atau belum, namun aku tahu kalau aku telah memaafkan diriku sendiri. Dan kini aku mengerti. Saat aku mengizinkan diriku untuk memaafkan diri sendiri, pada saat yang sama aku telah mengizinkan orang lain untuk memaafkanku.

Jumat, 26 November 2010

Berterima Kasih kepada Tuhan

Apakah kalian masih ingat doa-doa yang kalian panjatkan selama kalian hidup? Berapa banyak dari kita yang berdoa seperti ini, “Tuhan, aku ingin bahagia,” atau “Tuhan, aku ingin sukses,” atau, “Tuhan, aku ingin memiliki rumah sendiri,” atau, “Tuhan, aku ingin dia mencintaiku seperti aku mencintainya,” dan banyak “Tuhan, aku ingin...” lainnya.
Tapi berapa banyak dari kita yang berdoa seperti ini, “Tuhan, terima kasih karena masih mengizinkanku untuk hidup di dunia fana ini,” atau, “Tuhan, terima kasih atas anugerah yang telah Kau limpahkan kepadaku di hari ini,” atau, “Tuhan, terima kasih karena telah memberiku perasaan cinta yang indah,” atau bahkan, “Tuhan, terima kasih karena telah memberiku hari yang sulit dan menantang.”
Tidak, meminta dan mengungkapkan keinginan pribadi kita kepada Tuhan bukanlah sesuatu yang salah, bahkan meskipun permintaan kita terlalu egois. Ada juga yang meminta seperti ini, “Tuhan, aku ingin dia dipecat,” atau, “Tuhan, aku ingin dia mendapat ganjaran yang lebih berat,” atau, “Tuhan, aku ingin mereka berpisah.”
Namun yang menjadi pertanyaan adalah, “Apakah kita benar-benar menginginkan semua itu terwujud?”
Dulu, saat aku masih remaja, aku pernah berdoa seperti ini kepada Tuhan, “Tuhan, aku mencintainya. Aku ingin dia mencintaiku seperti aku mencintainya. Hanya itu permintaanku, Tuhan. Tidak lebih.”
Permohonanku terwujud. Orang itu mencintaiku seperti aku mencintainya. Hanya itu. Tidak lebih. Tapi kenapa setelah itu aku merasa kecewa? Bukankah Tuhan sudah mengabulkan permohonanku tepat seperti permintaanku sendiri?
Dulu aku masih terlalu muda untuk mengerti, tapi sekarang aku memahami semuanya. Saat aku meminta, aku tidak tahu apa yang benar-benar kuinginkan. Benar, Tuhan memang seringkali memberikan yang terbaik untuk kita, namun terkadang Ia pun memberikan apa yang kita minta. Masalahnya, seringkali kita tidak benar-benar tahu apa yang sebenarnya kita inginkan.
Saat ini aku sedang mencintai seseorang yang tidak seharusnya kucintai. Aku jatuh ke dalam cinta begitu dalam, hingga nyaris tidak dapat lagi menikmati cahaya matahari (meskipun aku memang lebih suka hujan). Aku merasa sangat bersalah dengan perasaanku ini dan menyembunyikannya dari siapapun, kecuali beberapa sahabat yang sangat kupercaya (dan kutahu akan selalu menerima diriku apa adanya).
Tapi entah kenapa, bahkan dalam tangis di setiap kesendirian malamku pun aku tidak sanggup memohon, “Tuhan aku mencintainya. Tolong dekatkan aku dengannya.” Aku tidak akan menyangkal dan mengatakan kalau aku tidak menginginkannya. Namun tiap kali aku menengadahkan tanganku, bahkan hati nuraniku selalu berulang kali mengingatkanku bahwa itu adalah permintaan yang egois dan dapat melukai orang lain. Pada akhirnya, sampai saat ini aku tidak pernah mengungkapkan permohonanku itu kepada Tuhan.
Dulu, mungkin aku akan melakukan segala cara untuk mendapatkan orang yang kucintai itu. Namun sekarang, begitu banyak pertimbangan yang harus kupikirkan. Aku telah belajar bahwa doa adalah kekuatan terbesar yang pernah dimiliki oleh kehidupan, dan aku tidak ingin menggunakan doaku untuk melukai orang lain. Tapi aku masih ingin berdoa. Aku ingin mengungkapkan isi hatiku yang terdalam kepada Tuhan, dan aku tidak ingin meminta hal lain. Aku sudah merasa berkecukupan dalam berbagai hal. Aku tahu Tuhan telah memberikan semua yang kubutuhkan untuk saat ini.
Akhirnya aku membiasakan diri untuk memulai doaku dengan, “Tuhan, aku berterima kasih atas seluruh karunia yang telah Kau limpahkan kepadaku di hari ini. Terima kasih atas cahaya matahari dan hujan yang telah Kau anugerahkan kepadaku dan seluruh kehidupan di bumi ini. Terima kasih karena Engkau telah memberkatiku dengan keluarga yang baik dan sahabat-sahabat yang menakjubkan. Terima kasih karena Engkau masih memberkatiku dengan kesehatan jiwa, raga, pikiran, dan hati.”
Aku mengulang ucapan terima kasihku setiap malam, meskipun pikiranku masih dipenuhi oleh sosok orang yang kucintai. Dan pada suatu malam, tiba-tiba kabut keraguanku terangkat. Aku mulai memahami apa yang sebenarnya kuinginkan, dan malam itu aku memperpanjang doaku,
“Tuhan, terima kasih karena Engkau masih bersedia membuka hatiku dan memberiku cinta yang indah. Aku mengerti, Tuhan. Cinta bukanlah sesuatu yang harus kusimpan untuk diriku sendiri. Engkau memberiku cinta ini agar aku dapat meneruskannya kepada orang lain. Aku mencintainya, Tuhan. Karena itu kumohon anugerahkanlah kebahagiaan kepadanya. Berikanlah ia kebahagiaan yang benar-benar ia butuhkan, kebahagiaan yang dapat ia sadari dan syukuri keberadaannya. Dan jika keberadaanku menghalangi datangnya kebahagiaan tersebut, maka jauhkanlah aku darinya. Dan jika seluruh kebahagiaan yang ada di dunia ini tidak cukup untuknya, maka ambillah kebahagiaanku dan berikan kepadanya. Sebab aku mengerti, Tuhan. Kebahagiaan mirip dengan cinta. Kedua hal tersebut bukanlah sesuatu yang harus kusimpan sendirian. Engkau memberikannya kepadaku agar aku dapat meneruskannya kepada orang lain. Engkau mencintaiku agar aku dapat mencintai orang lain, dan Engkau pun membahagiakanku agar aku dapat membahagiakan orang lain.”
Aku mengatakan semua itu di hadapan Tuhan tanpa keraguan dan rasa takut. Harus kuakui kalau rasanya memang menyakitkan, bahkan setelah aku memahami bahwa semua itu adalah sesuatu yang memang benar-benar kuinginkan. Sampai saat ini, ego-ku pun masih sering menggodaku untuk meminta “yang lain” kepada Tuhan. Aku tahu kalau aku berhak meminta, “Tuhan, dekatkan aku dengannya.” Tapi kurasa, aku pun berhak untuk tidak menyakiti orang lain dengan doaku. Aku berterima kasih kepada Tuhan, dan Ia menunjukkan kepadaku apa yang benar-benar kuinginkan.