Senin, 29 November 2010

Empati, Anugerah atau Kutukan?

Aku mengagumi orang-orang yang memiliki empati besar (aku menyebut mereka “Empath”) dan bersedia menolong siapa saja yang ada di sekitar mereka. Aku selalu mencoba untuk menjadi orang seperti itu. Awalnya, aku bersikap empati karena aku tidak memiliki pilihan. Beberapa tahun yang lalu saat aku masih kuliah S1, teman-temanku sering datang mencariku saat mereka memiliki masalah dan ingin berbagi denganku. Mula-mula aku tidak keberatan (meskipun saat itu aku sama sekali belum mengerti mengapa mereka mau mempercayakan masalah mereka kepadaku). Namun kemudian aku menemukan diriku seringkali stres, bukan karena memikirkan masalahku sendiri, namun justru karena memikirkan masalah teman-temanku. Aku menyerap perasaan mereka saat mereka curhat denganku, dan menganggapnya sebagai perasaanku sendiri. Kemudian dalam satu langkah radikal untuk menyelamatkan diri sendiri, aku memutuskan untuk menjauh dari teman-temanku. Sayangnya, sebagian dari mereka tidak memahami kestresanku dan terus mencariku, hingga aku harus selalu memasang ekspresi wajah “JANGAN MENDEKATIKU” tiap kali aku kuliah. Saat itu aku begitu membenci diriku sendiri dan menganggap semua yang terjadi padaku adalah kutukan. Buku harianku dipenuhi oleh kenegatifan, kestresan, kata-kata kasar, dan sarkasme.
Itu kisahku dulu, sebelum aku mencoba untuk menerima empati sebagai bagian dari diriku dan anugerah dari Tuhan. Sekarang, setelah aku menerima anugerah itu, terkadang aku masih stres (dan bahkan ikut menangis) saat ada teman yang menceritakan masalah mereka kepadaku. Namun aku selalu mencoba untuk menanggapinya dengan bijak (meskipun aku tahu kalau aku tidak sebijak itu). Beberapa “saudari”ku telah membantuku untuk menerima & menggunakan anugerah itu secara wajar, agar aku dapat menolong orang lain tanpa melukai diriku sendiri, atau bahkan orang-orang yang dekat denganku.
Tidak semua orang di dunia ini memiliki empati yang besar. Setiap manusia memiliki empati dan dapat menjadi Empath, namun tidak semua manusia ingin memaksimalkan anugerah itu. Itu bukan kesalahan, karena setiap manusia memiliki pandangan dan prioritas yang berbeda dalam kehidupan. Dulu aku seringkali berempati kepada orang lain dengan harapan bahwa mereka juga dapat berempati kepadaku. Tapi kemudian aku menyadari bahwa sikapku salah. “Berempati kepada orang lain” adalah pilihanku, bukan pilihan teman-teman atau bahkan keluargaku.
Aku juga menemukan bahwa bahkan Empath seringkali menyia-nyiakan harta mereka yang paling berharga (termasuk aku). Keluarga. Harus kuakui kalau dalam perjalanan hidupku, aku begitu memfokuskan empatiku kepada sahabat, teman-teman, dan orang-orang di sekelilingku hingga aku tidak lagi memiliki cukup empati untuk diberikan kepada keluargaku. Aku seringkali lupa bahwa mereka juga sama seperti sahabat, teman-teman, dan orang lain di sekelilingku. Mereka adalah manusia. Dan mereka, orang-orang yang kita sebut sebagai keluarga, juga ternyata memiliki pandangan dan prioritas yang berbeda dengan kita di dalam kehidupan. Kita tidak dapat menuntut mereka untuk memiliki pandangan dan prioritas yang sama seperti kita. Sebaliknya, seharusnya kita dapat lebih memahami mereka dengan empati kita.
Keluarga, apapun bentuk dan wujudnya, adalah salah satu harta manusia yang paling berharga yang pernah diberikan oleh Tuhan. Mungkin mereka tidak seperti yang kita inginkan, namun mereka adalah yang paling sempurna dan paling kita butuhkan selama kita hidup di dunia ini. Ayahku adalah sosok yang bijaksana dan menjadi panutanku. Ibuku berpikiran sederhana, namun selalu dapat menarikku kembali ke realita ketika aku terbang terlalu tinggi ke dunia mimpi. Adikku idealis yang berpikiran terbuka, sehingga ia mau menempatkan dirinya di dalam realita dunia. Aku membutuhkan semua itu. Aku membutuhkan orang-orang seperti mereka di dalam kehidupanku.
Tapi kenyataannya seringkali kita menyia-nyiakan mereka, menuntut mereka agar dapat memahami kita, dan bahkan bertindak egois kepada mereka. Kita seringkali berkata bahwa darah lebih kental dibandingkan air, namun kita justru lebih sering menyia-nyiakan darah dengan tikaman-tikaman kecil yang pada akhirnya dapat membunuh kita sendiri. Bahkan kita sering memanfaatkan mereka untuk membantu kita menolong orang lain tanpa pernah mempertimbangkan keadaan mereka. Sebaiknya kita mencoba untuk memahami keluarga kita terlebih dahulu, sebelum mencoba memahami orang lain.  Sebab keluarga adalah kehidupan terdekat yang berjalan di sebelah kita, meskipun tujuan akhir mereka mungkin tidak sama dengan tujuan akhir kita.
Empati adalah anugerah yang istimewa, namun dapat menjadi kutukan jika kita tidak tahu bagaimana cara mengontrol dan menggunakannya secara benar. Para Empath adalah salah satu dari mereka yang dapat menjadikan dunia ini sebagai tempat yang lebih lembut bagi kehidupan-kehidupan lain yang ada di dalamnya. Mengenal seorang Empath adalah sebuah keberuntungan, dan menjadi seorang Empath adalah sebuah anugerah. Jadi, para Empath yang mengagumkan di luar sana, tolong pikirkan lagi baik-baik:
“Berempati kepada orang lain, namun bersikap egois kepada keluarga?”
“Menolong orang lain dengan cara melukai orang lain?”
Apakah hati kalian tidak merasa sakit saat merenungi semua itu?

Istana Pasir

From: Tabloid Wanita Indonesia no. 679

Mentari terik menyengat. Udara segar, ombak mengalun. Seorang anak berlutut menggali dan memasukkan pasir dengan sekop plastik ke dalam ember birunya. Setelah penuh, dipadatkannya pasir tersebut, lalu dibalikkannyalah embernya. Seperti seorang arsitek kecil, terciptalah sebuah istana pasir. Sepanjang sore dia bekerja tak kenal lelah. Ujung botol menjadi menara, gagang es krim menjadi jembatan.
Kota besar, jalanan yang sibuk, lalu lintas padat. Seorang pria di dalam kantornya. Di atas meja, tertumpuk koran dan berkas kerja. Menjepit telepon pada bahu sambil menekan tombol komputer. Angka telah terjumlah, kontrak yang disetujui menyenangkan hatinya karena telah berhasil membuat kuntungan. Hidup dihabiskannya untuk bekerja, mengatur jadwal kegiatan, meramalkan masa depan, Bonus menjadi pusat konsentrasinya, laba menjadi tujuan hidupnya, sebuah kerajaan telah dibangun.
Dua manusia, sama-sama membangun istana. Tampak memiliki persamaan. Tak peduli apapun yang terjadi, mereka tak bergeming mewujudkan tujuannya. Mereka cerdas, konsisten, dan keduanya akan terkenal luapan gelombang pasang yang membawa kehancuran. Saat itulah perbedaan muncul.
Si kecil akan menjadi saksi sebuah kehancuran, sementara sang pria mengabaikannya. Saat gelombang ombak menghampiri, anak yang bijaksana akan melompat dan bertepuk tangan tanpa adanya kesedihan ataupun takut. Dia tahu hal ini akan terjadi, sehingga tidak merasa terkejut menghadapinya. Saat kehancuran menimpa istana pasirnya, menghisap maha karya ciptaannya ke tengah lautan, dia tersenyum. Hanya tersenyum, mengambil peralatannya, menggandeng tangan ayahnya lalu pulang.
Sang pria, tampaknya kurang bijaksana. Gelombang tahun menghancurkan kerajaannya, membuatnya ketakutan. Setengah mati dia berusaha melindungi istananya dengan menghadang gelombang agar menjauh dari dinding yang telah dibangunnya. Malang tak dapat ditolak. Sang pria hanya bisa merintih sedih “Istanaku!” Samudera tak perlu memberi jawaban. Alam telah mengatur, dari mana asal pasir istana tersebut…
Mungkin anda tidak tahu banyak tentang istana pasir, namun anak-anak tahu. Perhatikan dan pelajari. Bangunlah semua impian, namun tetap dengan kesadaran dan perasaan seorang anak. Saat matahari terbenam dan ombak pasang datang, bersyukurlah karena telah menyaksikan keagungan semesta, lalu pulang. “Seorang yang menganggap matahari sebagai sumber kebahagiaan tak pernah bersinar di tengah hujan.” Percayalah kepada mentari meskipun dia tak bersinar. Percayalah kepada cinta meski tak merasakannya. Percayalah kepada Yang Kuasa meskipun Dia diam.

Memaafkan Diri Sendiri

Ada yang mengatakan bahwa tugas manusia yang paling berat adalah berjabat tangan dengan dirinya sendiri. Dan akhir-akhir ini aku menemukan bahwa perkataan tersebut memang benar. Belum lama ini aku menyakiti seseorang dengan perasaanku sendiri. Aku menyerangnya dengan emosiku, pada saat yang salah dan dalam situasi yang salah. Setelah itu aku begitu marah dengan diriku sendiri. Aku terus-terusan menyesali semua kejadian yang aku tahu dapat kuhindari. Aku jatuh terpuruk dalam kesedihan selama berhari-hari dan ego-ku seringkali menguasaiku. Segala hal berusaha kulakukan agar aku dapat keluar dari situasi tersebut.
Aku menghabiskan waktuku untuk menulis, bersosialisasi dengan teman-temanku, menikmati hidup, dan mencoba untuk terus berpikir positif. Semua itu cukup untuk mengalihkan pikiranku, namun ketika malam menjelang dan tidak ada yang dapat kulakukan selain berbaring di tempat tidurku, kesedihan itu kembali menguasaiku. Aku berpikir keras untuk mencari cara agar orang tersebut mau memaafkanku.
Situasi memang kembali normal dan sama sekali tidak ada perubahan dalam interaksi kami, namun aku tahu dia berusaha menjaga jarak denganku, dan akupun kembali menutup diri darinya. Semua situasi negatif itu terasa seperti adegan slow motion dalam kehidupanku, dan aku tidak sabar untuk menekan tombol fast forward. Namun kemudian aku kembali berpikir, “Apa kira-kira yang akan terjadi jika aku menekan tombol fast forward?” Kelebatan bayangan-bayangan buruk segera menghantui pikiranku, membuatku enggan untuk menekan tombol fast forward. Namun aku masih di sini, terpuruk dalam kesedihanku.
Malam itu, dalam kesedihanku yang paling dalam hingga aku tidak dapat lagi melihat cahayaku sendiri, aku menangis kepada Tuhan. Tidak ada ucapan terima kasih, tidak ada rasa syukur, tidak ada ketulusan, hanya ego-ku. Aku lelah. Aku hanya ingin segera keluar dari situasi ini.
Setelah lelah menangis dan mengadu, aku terdiam di dalam kegelapan selama beberapa lama. Aku berusaha merenungi diriku sendiri, dan kembali kepada kesimpulan yang selama ini sering aku (dan orang-orang di sekelilingku) gunakan untuk mendeskripsikan diriku, “Aku terlalu keras kepada diriku sendiri. Lagi.” Kemudian hatiku kembali berbicara, “Kau sudah mengambil pelajaran dari kejadian ini. Sekarang adalah waktunya untuk memaafkan dirimu sendiri. Apapun kesalahan yang telah kau perbuat, itu adalah bagian dari dirimu. Terimalah dan maafkan. Setelah itu lanjutkan langkahmu.”
Permintaan yang sangat berat, mengingat kondisiku saat itu. Namun aku memutuskan untuk mencobanya. Perlahan-lahan aku berusaha mendalami semua kejadian itu dengan ingatan dan emosiku. Bukan sesuatu yang menyenangkan, namun kemudian aku jadi lebih memahami diriku sendiri dengan semua itu.
Lalu aku memfokuskan diriku pada rasa takutku. Aku takut tidak dimaafkan. Aku takut pada kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Aku takut pada bayangan-bayangan yang mungkin tidak akan pernah terjadi. Dan aku melepaskan semua itu. Aku melepaskannya kepada Tuhan, kepada kepasrahan. Tiap kali ketakutan itu menyerangku, aku selalu mengingatkan diriku sendiri bahwa semua ketakutanku itu sudah menjadi milik Tuhan dan aku tidak bisa mengambilnya lagi.
Perlahan-lahan aku menemukan kedamaian diriku kembali. Tidak ada kekhawatiran lagi. Fokusku pada “keberadaanku” di saat ini kembali pulih. Dan akhirnya, aku dapat menerima diriku kembali. Aku dapat melihat cahayaku kembali dan siap melanjutkan langkahku. Sampai saat ini aku tidak tahu apakah orang tersebut sudah memaafkanku atau belum, namun aku tahu kalau aku telah memaafkan diriku sendiri. Dan kini aku mengerti. Saat aku mengizinkan diriku untuk memaafkan diri sendiri, pada saat yang sama aku telah mengizinkan orang lain untuk memaafkanku.

Jumat, 26 November 2010

Berterima Kasih kepada Tuhan

Apakah kalian masih ingat doa-doa yang kalian panjatkan selama kalian hidup? Berapa banyak dari kita yang berdoa seperti ini, “Tuhan, aku ingin bahagia,” atau “Tuhan, aku ingin sukses,” atau, “Tuhan, aku ingin memiliki rumah sendiri,” atau, “Tuhan, aku ingin dia mencintaiku seperti aku mencintainya,” dan banyak “Tuhan, aku ingin...” lainnya.
Tapi berapa banyak dari kita yang berdoa seperti ini, “Tuhan, terima kasih karena masih mengizinkanku untuk hidup di dunia fana ini,” atau, “Tuhan, terima kasih atas anugerah yang telah Kau limpahkan kepadaku di hari ini,” atau, “Tuhan, terima kasih karena telah memberiku perasaan cinta yang indah,” atau bahkan, “Tuhan, terima kasih karena telah memberiku hari yang sulit dan menantang.”
Tidak, meminta dan mengungkapkan keinginan pribadi kita kepada Tuhan bukanlah sesuatu yang salah, bahkan meskipun permintaan kita terlalu egois. Ada juga yang meminta seperti ini, “Tuhan, aku ingin dia dipecat,” atau, “Tuhan, aku ingin dia mendapat ganjaran yang lebih berat,” atau, “Tuhan, aku ingin mereka berpisah.”
Namun yang menjadi pertanyaan adalah, “Apakah kita benar-benar menginginkan semua itu terwujud?”
Dulu, saat aku masih remaja, aku pernah berdoa seperti ini kepada Tuhan, “Tuhan, aku mencintainya. Aku ingin dia mencintaiku seperti aku mencintainya. Hanya itu permintaanku, Tuhan. Tidak lebih.”
Permohonanku terwujud. Orang itu mencintaiku seperti aku mencintainya. Hanya itu. Tidak lebih. Tapi kenapa setelah itu aku merasa kecewa? Bukankah Tuhan sudah mengabulkan permohonanku tepat seperti permintaanku sendiri?
Dulu aku masih terlalu muda untuk mengerti, tapi sekarang aku memahami semuanya. Saat aku meminta, aku tidak tahu apa yang benar-benar kuinginkan. Benar, Tuhan memang seringkali memberikan yang terbaik untuk kita, namun terkadang Ia pun memberikan apa yang kita minta. Masalahnya, seringkali kita tidak benar-benar tahu apa yang sebenarnya kita inginkan.
Saat ini aku sedang mencintai seseorang yang tidak seharusnya kucintai. Aku jatuh ke dalam cinta begitu dalam, hingga nyaris tidak dapat lagi menikmati cahaya matahari (meskipun aku memang lebih suka hujan). Aku merasa sangat bersalah dengan perasaanku ini dan menyembunyikannya dari siapapun, kecuali beberapa sahabat yang sangat kupercaya (dan kutahu akan selalu menerima diriku apa adanya).
Tapi entah kenapa, bahkan dalam tangis di setiap kesendirian malamku pun aku tidak sanggup memohon, “Tuhan aku mencintainya. Tolong dekatkan aku dengannya.” Aku tidak akan menyangkal dan mengatakan kalau aku tidak menginginkannya. Namun tiap kali aku menengadahkan tanganku, bahkan hati nuraniku selalu berulang kali mengingatkanku bahwa itu adalah permintaan yang egois dan dapat melukai orang lain. Pada akhirnya, sampai saat ini aku tidak pernah mengungkapkan permohonanku itu kepada Tuhan.
Dulu, mungkin aku akan melakukan segala cara untuk mendapatkan orang yang kucintai itu. Namun sekarang, begitu banyak pertimbangan yang harus kupikirkan. Aku telah belajar bahwa doa adalah kekuatan terbesar yang pernah dimiliki oleh kehidupan, dan aku tidak ingin menggunakan doaku untuk melukai orang lain. Tapi aku masih ingin berdoa. Aku ingin mengungkapkan isi hatiku yang terdalam kepada Tuhan, dan aku tidak ingin meminta hal lain. Aku sudah merasa berkecukupan dalam berbagai hal. Aku tahu Tuhan telah memberikan semua yang kubutuhkan untuk saat ini.
Akhirnya aku membiasakan diri untuk memulai doaku dengan, “Tuhan, aku berterima kasih atas seluruh karunia yang telah Kau limpahkan kepadaku di hari ini. Terima kasih atas cahaya matahari dan hujan yang telah Kau anugerahkan kepadaku dan seluruh kehidupan di bumi ini. Terima kasih karena Engkau telah memberkatiku dengan keluarga yang baik dan sahabat-sahabat yang menakjubkan. Terima kasih karena Engkau masih memberkatiku dengan kesehatan jiwa, raga, pikiran, dan hati.”
Aku mengulang ucapan terima kasihku setiap malam, meskipun pikiranku masih dipenuhi oleh sosok orang yang kucintai. Dan pada suatu malam, tiba-tiba kabut keraguanku terangkat. Aku mulai memahami apa yang sebenarnya kuinginkan, dan malam itu aku memperpanjang doaku,
“Tuhan, terima kasih karena Engkau masih bersedia membuka hatiku dan memberiku cinta yang indah. Aku mengerti, Tuhan. Cinta bukanlah sesuatu yang harus kusimpan untuk diriku sendiri. Engkau memberiku cinta ini agar aku dapat meneruskannya kepada orang lain. Aku mencintainya, Tuhan. Karena itu kumohon anugerahkanlah kebahagiaan kepadanya. Berikanlah ia kebahagiaan yang benar-benar ia butuhkan, kebahagiaan yang dapat ia sadari dan syukuri keberadaannya. Dan jika keberadaanku menghalangi datangnya kebahagiaan tersebut, maka jauhkanlah aku darinya. Dan jika seluruh kebahagiaan yang ada di dunia ini tidak cukup untuknya, maka ambillah kebahagiaanku dan berikan kepadanya. Sebab aku mengerti, Tuhan. Kebahagiaan mirip dengan cinta. Kedua hal tersebut bukanlah sesuatu yang harus kusimpan sendirian. Engkau memberikannya kepadaku agar aku dapat meneruskannya kepada orang lain. Engkau mencintaiku agar aku dapat mencintai orang lain, dan Engkau pun membahagiakanku agar aku dapat membahagiakan orang lain.”
Aku mengatakan semua itu di hadapan Tuhan tanpa keraguan dan rasa takut. Harus kuakui kalau rasanya memang menyakitkan, bahkan setelah aku memahami bahwa semua itu adalah sesuatu yang memang benar-benar kuinginkan. Sampai saat ini, ego-ku pun masih sering menggodaku untuk meminta “yang lain” kepada Tuhan. Aku tahu kalau aku berhak meminta, “Tuhan, dekatkan aku dengannya.” Tapi kurasa, aku pun berhak untuk tidak menyakiti orang lain dengan doaku. Aku berterima kasih kepada Tuhan, dan Ia menunjukkan kepadaku apa yang benar-benar kuinginkan.

Kamis, 25 November 2010

Saat Aku Mati, Hal Apa yang akan Diingat oleh Orang Lain Tentangku?

Kalau ada hal yang paling kusukai dari adikku, itu adalah nasi goreng buatannya dan kemampuannya dalam menganalogikan sesuatu. Tadi malam aku bertanya kepadanya, “Kalau gw mati, kira-kira hal apa yang akan paling diinget oleh orang lain tentang gw?” 
Lalu adikku mulai bercerita:

“Alkisah ada seorang pria yang kaya raya. Pria kaya tersebut memutuskan untuk berguru pada seorang pria yang hidupnya sederhana. Pada suatu hari, sang guru dan murid makan malam bersama di sebuah restoran mewah. Sang murid yang kaya sudah sering datang ke restoran tersebut, hingga para pelayan di sana mengenal dan sangat menghormatinya. Selama makan malam, para pelayan menaruh perhatian ekstra kepada sang murid, hingga membuat murid tersebut merasa tidak enak kepada gurunya yang duduk semeja dengannya.
Tolong jangan terlalu berlebihan melayaniku,’ bisik sang murid kepada para pelayan. ‘Pria yang duduk bersamaku adalah guruku. Hormatilah beliau.
Para pelayan mengiyakan, namun pada akhirnya mereka tetap saja melayani sang murid lebih dibandingkan gurunya. Sang guru sendiri tampak tidak terlalu mempedulikan sikap para pelayan tersebut dan terus menikmati makan malamnya.
Ketika makan malam telah selesai, sang guru mengeluarkan dompetnya dan memberikan tip yang besar kepada para pelayan. Sang murid maupun para pelayan restoran itu tercengang melihat jumlah tip yang diberikan oleh sang guru.
Dalam perjalanan pulang, sang murid menyatakan keheranannya kepada sang guru, ‘Anda tahu kalau pelayanan di restoran tadi kurang memuaskan, terutama bagi anda sendiri. Kenapa anda malah memberikan mereka tip dengan jumlah besar?
Sang guru berkata, ‘Mereka memang telah bersikap tidak pantas. Namun mereka telah menentukan pilihan untuk memberikan pelayanan ekstra kepadamu. Itu adalah pilihan mereka. Aku memang bisa saja memberikan tip yang kecil, atau bahkan memprotes sikap mereka yang kurang ajar, namun aku lebih memilih untuk memberikan tip yang jumlahnya di atas kepantasan yang patut mereka terima. Itu adalah pilihanku.
Setiap manusia di dunia ini memiliki pilihan mereka sendiri, dan terkadang pilihan mereka mempengaruhi kita, baik secara positif maupun negatif. Namun aku tidak pernah membiarkan pilihan orang lain mempengaruhi pilihanku. Aku pun juga tidak akan memaksa orang lain untuk mengikuti pilihanku.’”

Cerita di atas memang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pertanyaanku sebelumnya. Tapi aku mengerti. Seperti itulah adikku melihatku, dan seperti itulah kelak dia akan mengingatku saat aku mati.
Lalu aku teringat almarhum ayahku yang meninggal saat aku masih SMU. Selama dalam prosesi, aku melihat seorang pria yang tampak bekerja lebih keras dibandingkan orang-orang lainnya. Ia ikut memandikan jasad ayahku, mengafani, mensholatkan, dan bahkan turun ke liang lahat untuk memakamkan ayahku. Aku tidak pernah berbicara dengannya, namun sikapnya menarik perhatianku. Aku belum sempat bertanya, ketika ibuku menjelaskan, “Orang itu dulu pernah meminta pertolongan Bapak. Bapak lalu membantu orang itu untuk melanjutkan sekolah dan mencarikan pekerjaan untuknya.”
Aku terus menyimpan cerita itu di dalam pikiranku, bahkan ketika ibuku sendiri sudah lupa kalau dia pernah menceritakan semua itu kepadaku. Pada saat yang sama, aku pun mengerti. Orang-orang tidak pernah mengingat berapa banyak jumlah rupiah di rekening bank ayahku. Orang-orang tidak pernah peduli apakah ayahku memiliki kendaraan atau tidak. Orang-orang tidak pernah peduli apakah ayahku tinggal di rumah mewah atau gubuk jerami.
Namun mereka ingat kebaikan yang pernah diperbuat oleh ayahku semasa hidupnya. Mereka peduli dengan kepergian salah satu jiwa yang keberadaannya pernah menyentuh jiwa mereka dengan sisi lembut kehidupan. Mereka peduli pada ingatan indah, rasa syukur, dan terima kasih.
Ayahku bukan orang yang sangat ramah. Gaya bicaranya pun keras. Namun di dalam setiap perbuatan dan sikapnya terdapat kebijaksanaan yang bahkan suaranya masih mendengung di atas langit-langit rumah keluargaku sampai saat ini, mengalahkan memori-memori buruk akan kata-kata keras ala militernya. Dan sekarang, aku akan menyimpan kebijaksanaan-kebijaksanaan itu dan memakainya dengan caraku sendiri. Itu pilihanku.

Rabu, 24 November 2010

Aku Meminta Tuhan...

Aku meminta Tuhan untuk mengambil semua kebiasaan burukku.
Tuhan berkata, "Tidak, aku tidak akan mengambilnya, tapi kaulah yang harus melepaskannya."

Aku meminta Tuhan untuk menyempurnakan tubuh anakku yang cacat.
Tuhan berkata, "Tidak, jiwanya sempurna, dan tubuhnya hanya sementara."

Aku meminta Tuhan untuk menganugerahiku kesabaran.
Tuhan berkata, "Tidak, kesabaran adalah hadiah dari sebuah masalah. Kesabaran tidak dianugerahkan, tapi dipelajari."

Aku meminta Tuhan untuk memberiku kebahagiaan.
Tuhan berkata, "Tidak, Aku memberimu berkat, kebahagiaan adalah hal yang kau pilih sendiri."

Aku meminta Tuhan untuk menghapus penderitaanku.
Tuhan berkata, "Tidak penderitaan menjauhkanmu dari dunia fana dan mendekatkanmu kepadaKu."

Aku meminta Tuhan untuk menumbuhkan jiwaku.
Tuhan berkata, "Tidak, kau harus tumbuh sendiri! Namun aku akan memeliharamu agar dapat kau dapat berbuah."

Aku meminta Tuhan untuk memberiku segala hal yang dapat kunikmati dalam hidup.
Tuhan berkata, "Tidak, Aku memberimu kehidupan agar kau dapat menikmati segala hal."

Aku meminta Tuhan untuk menolongku mencintai orang lain, sebanyak Tuhan mencintaiku.
Tuhan berkata, "Ah.. akhirnya kau mengerti."

Mulai dengan Diri Sendiri

By: Anonim

Ketika aku masih muda dan bebas dan imajinasiku mengembara tanpa batas, aku bercita-cita untuk mengubah dunia. Ketika aku semakin tua dan bijaksana, aku menyadari bahwa dunia tidak akan berubah, dan aku memendekkan sasaranku, memutuskan untuk mengubah negeriku saja.

Namun negeriku pun tampaknya tidak dapat diubah.

Ketika aku semakin jauh mengarungi masa tuaku, dalam suatu upaya nekat, aku bertekad untuk mengubah keluargaku saja, mereka yang memiliki hubungan dekat denganku, namun aduh, mereka pun sama saja.

Dan kini, ketika aku berbaring di ranjang kematianku, aku tiba-tiba menyadari: "Andaikata dulu aku pertama kali mengubah diriku sendiri, melalui teladan barangkali aku berhasil mengubah keluargaku. Dari inspirasi dan dorongan mereka, aku seharusnya dapat memperbaiki negeriku, dan mungkin saja aku bahkan dapat mengubah dunia."

Memeluk Pohon

Aku pernah berada di suatu masa kehidupan ketika aku merasa sendirian, tersesat di tempat asing yang sama sekali tidak kukenal. Aku memiliki banyak teman dan sahabat, namun mereka tidak dapat mengisi kesendirianku. Aku memiliki keluarga yang sangat menyayangiku, namun mereka pun tidak dapat mengisi kekosongan jiwaku. Aku tahu Tuhan, namun aku tidak pernah benar-benar mengenalnya. Aku menemuiNya hanya pada saat aku menginginkan sesuatu, dan aku selalu meminta dengan cara yang memaksa, tidak peduli apakah permintaanku itu akan menyakiti orang lain yang terlibat. Hidupku terasa kosong. Ada yang hilang…
Pada suatu hari, aku memutuskan untuk memulai ‘perjalanan’ untuk menemukan sesuatu yang hilang itu. Namun aku tidak tahu harus memulai darimana. Aku menghabiskan banyak waktu untuk membaca buku-buku psikologi modern. Buku-buku itu memperkaya jiwaku, namun aku belum menemukan rumah untuk menampung harta-harta itu.
Pada suatu sore, aku menengadah menatap langit melalui jendela kamarku dan melihat warna biru yang indah. Tanpa berpikir lama, aku melangkahkan kaki keluar dari rumah dan segera dapat merasakan bau udara sore, bau yang sangat kurindukan dan selalu dapat membuatku kembali masa lalu. Aku berjalan menuju sebuah tanah kosong di sebelah komplek. Tanah kosong itu dijadikan kebun oleh warga dan dipenuhi oleh pohon-pohon rindang. Setiap sore kebun itu ramai oleh anak-anak yang bermain dan orang-orang yang berolahraga ataupun berkebun.
Aku sampai di depan sebuah pohon, dan aku tercengang ketika menyadari bagaimana waktu telah membawaku berlari begitu cepat. Dulu aku sering bermain di sekitar pohon itu bersama teman-temanku. Dulu pohon itu tumbuh dengan subur, rindang, dan selalu berbuah. Dulu kami mengukir nama-nama kami di pohon itu. Dulu kami mempercayakan pohon itu sebagai rumah kedua dan tempat berlindung kami. Pohon itu telah menjadi saksi kuat-retaknya persahabatan kami. Namun sekarang pohon itu penuh dengan ilalang, kering tanpa daun & buah, gersang, dan dahannya mulai retak.
Aku terpaku selama beberapa lama tanpa menghiraukan tatapan aneh dari orang-orang yang berlalu-lalang di dekatku. Aku merasa marah karena apa yang telah terjadi pada pohon itu, namun aku tidak tahu harus menujukan kemarahanku kepada siapa.
Kemudian aku menyadari satu hal. Dulu pohon itu telah menjadi ‘ibu’ kedua kami, namun  satu kali pun aku belum pernah mengucapkan terima kasih kepadanya. Aku menyia-nyiakan waktu yang kumiliki untuk berterima kasih, hingga pohon itu kini nyaris mati. “Masih belum terlambat,” pikirku.
Aku menunggu sampai sekitarku sepi, dan aku mengulurkan tanganku ke pohon itu. Aku merasakan teksturnya yang kasar dan kuat, namun juga hangat dan familiar. Dalam kecanggunganku, untuk pertama kalinya aku berbicara kepada sosok yang aku tahu tidak akan pernah membalas kata-kataku. “Terima kasih,” kataku pelan. “Terima kasih karena sudah menjagaku & teman-temanku,” kalimatku semakin mantap dan meyakinkan. “Terima kasih karena sudah menjadi rumah kedua bagiku & teman-temanku.”
Pohon itu tidak menjawab, tapi aku merasa kalau ucapan terima kasih saja tidak cukup. Kemudian dalam satu kenekatan, tanpa pikir panjang aku memeluk pohon itu. Dahannya yang keras dan retak menggores lenganku, tapi aku tidak peduli. Aku memeluk pohon itu sekuat tenaga, sambil tersenyum membayangkan indahnya masa kecilku. Aku kembali ke rumah dalam suasana hati yang jauh lebih bahagia.
Beberapa hari kemudian, aku memutuskan untuk kembali ke kebun dan menemui pohon itu lagi. Kali ini tanpa ragu aku memeluknya lagi. Namun hari ini ada sesuatu yang berbeda. Aku mendongak dan melihat tunas-tunas daun muda tumbuh di batang-batang pohon itu. Tanpa sadar aku tertawa tanpa suara karena belum pernah aku merasakan hatiku selega itu. Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih dan berjalan pergi, ketika rombongan anak-anak kecil bersepeda melewatiku dan memarkir sepeda mereka di dekat pohon itu. Aku memperhatikan selama beberapa saat dengan was-was. Aku takut mereka akan merusak pohon itu dan mencabuti tunas-tunasnya. Tapi kekhawatiranku tak terbukti. Anak-anak itu hanya duduk di sekitar pohon sambil bermain dan mengobrol. Sama sepertiku dulu. Tiba-tiba aku mendengar suara dari angin sore yang berhembus, “Pergilah… Lanjutkan perjalananmu...” Dan kemudian aku memahami segalanya. Pohon itu telah membesarkanku, dan kini sedang membesarkan anak-anak lain. Pohon itu pernah menjadi rumahku, dan kini menjadi rumah anak-anak itu. Kenapa aku bisa lupa?
Rumah bukan hanya tempat yang menjadi peristirahatan abadi kita di ujung perjalanan, namun juga tempat yang nyaman dan dapat menerima kita apa adanya, yang kita temui di tengah perjalanan. Rumah yang sebenarnya adalah tempat yang dapat menjaga dan merawat kita saat kita belajar untuk tumbuh menjadi diri kita yang terbaik, dan akan melepaskan kita dalam perjalanan lain saat kita membutuhkan ruang yang lebih luas untuk tumbuh. Pohon itu telah menjaga dan merawatku & teman-temanku, dan ia telah melepaskan kami dalam perjalanan lain saat pandangan & jangkauan kami semakin luas. Namun bukan berarti setelah itu kita tidak berhak untuk kembali ke rumah lama kita. Waktu bergerak begitu cepat dan seringkali memaksa kita berlari hingga kita melupakan tujuan kita. Dan terkadang, kembali ke rumah lama akan membantu kita untuk mengingat kembali tujuan awal kita saat kita memutuskan untuk mengarungi perjalanan itu.
Saat ini aku telah menemukan rumah baruku, dan mungkin suatu saat nanti aku akan meninggalkan rumah itu saat aku membutuhkan ruang yang lebih luas untuk tumbuh. Namun baik rumah baruku maupun pohon itu, tetap akan menjadi rumahku.