Kamis, 02 Desember 2010

Sendirian...

Aku di sini,
Berdiri di antara hari-hari,
Yang tidak pernah berhenti berlari.

Di dalam tubuhku tersimpan sejarah,
Warisan dari akar-akar masa lalu,
Hidup dan bergejolak bagai badai,
Namun tenggelam di dasar jiwaku.

Ada senandung nyanyian dalam keabadian,
Di tiap hembusan angin dan sapaan angan,
Iramanya memanggilku kembali pulang,
Melampaui tanah dan waktu seberang.

Aku melihat tarian-tarian indah alam,
Di siang yang paling terang dan malam yang paling kelam,
Menggodaku dalam tiap gerakan,
Meraihku untuk berdansa bersama rembulan.

Aku mendengar suara tawa lembut,
Dari balik kelambu malam berkabut,
Menyusup ke dalam mimpi-mimpi terdalamku,
Memberkatiku dengan rahasia-rahasia semesta.

Namun terkadang ingin kusangkal,
Hal-hal yang hanya dapat kusaksikan sendirian,
Kadang kuharap jiwaku lebih dangkal,
Tanpa pernah memikirkan pelajaran atau perjalanan.

Terkadang aku ingin melihat mentari yang sama,
Berjalan dan berlari di antara jiwa-jiwa muda,
Namun panggilan pulang tak dapat kutolak,
Karena keindahannya mampu menggetarkan cinta.

Tapi aku sangat lelah dan masih muda,
Untuk menjadi begitu kaya dan tua.
Di masaku kini pencerahan tak lagi berharga,
Hanya memisahkanku dari jiwa lain yang ada.

Kata-kataku kehilangan makna,
Orang-orang menganggapku tak nyata,
Karena aku tak berlari secepat mereka,
Di jalan yang penuh lubang dan tak rata.

Aku masih di sini,
Berdiri di antara hari-hari,
Menjaga sejarah yang terlupakan,
Sendirian…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar