Aku begitu bersyukur karena hidupku dikelilingi oleh orang-orang yang menarik, yang dapat menjadikan duniaku jauh lebih berwarna. Selama ini aku selalu mencoba untuk membayangkan diriku berdiri di posisi orang lain, “memakai sepatu & kacamata mereka”, karena dengan cara seperti itu aku mampu memahami dan mengerti mereka. Dan seringkali pemahaman yang kutemukan membawaku ke dalam perasaan dan emosi yang beragam dan menarik.
Aku menyukai cara tertawa salah seorang temanku. Saat dia tertawa, aku merasakan adanya ungkapan yang jauh lebih dalam dan bermakna di balik tawanya. Suara tawanya penuh dengan pemahaman, seolah akhirnya dia berhasil melihat sebuah kejadian atau kisah dari sudut pandang yang lebih ringan dan menyegarkan. Temanku adalah seorang pejuang (atau seperti itulah aku melihatnya). Hidupnya dipenuhi target dan setiap langkah yang diambilnya adalah tahap-tahap perjalanan untuk menggapai mimpi-mimpinya. Dan caranya tertawalah yang telah membantuku untuk menemukan hal lain dari dirinya. Suara tertawanya mampu membuatku merasa tenang, karena ternyata ia masih dapat melihat kehidupan dan dunia sebagai sebuah gurauan dan tempat bermain.
Aku juga menyukai cara sahabat dan adikku bercerita. Sahabatku adalah orang yang tangguh namun tidak pernah lupa untuk bersyukur. Ia menginginkan kehidupan normal lebih dari siapapun yang pernah kutemui, dan aku sangat memahami alasannya. Ia juga telah mengajariku banyak hal tentang kehidupan. Dan salah satu kelebihannya yang paling kusukai adalah, ia mampu menceritakan kisah-kisah datar dalam kehidupan sehari-harinya menjadi sesuatu yang lucu dan menyegarkan. Jika aku melihat kejadiannya secara nyata, mungkin aku tidak akan tertawa atau bahkan menganggap semua itu sebagai kejadian yang lucu. Namun ketika kejadian itu dikisahkan kembali melalui sudut pandang sahabatku, ada kesegaran baru yang selalu dapat membuatku tersenyum lebar dan bahkan tertawa lepas.
Adikku lebih sering menceritakan film-film yang baru saja ia tonton. Dia orang yang sangat senang berbicara. Bahkan ketika ia melihatku sedang berkonsentrasi pada hal lain, ia tetap saja berbicara hingga terkadang aku tertawa melihat sikapnya. Tiap kali adikku tertarik pada film yang baru ia tonton, ia akan merekomendasikannya kepadaku dan menceritakan isi film tersebut. Dan ceritanya selalu menarik hingga membuatku penasaran ingin menonton film tersebut. Terkadang aku memang menonton film yang direkomendasikan olehnya, namun sejujurnya aku lebih senang kalau ia menceritakan isi film tersebut secara langsung. Sebab seringkali saat aku menonton film-film tersebut, ternyata jalan ceritanya tidak semenarik apa yang sudah diceritakan oleh adikku.
Aku sendiri tidak begitu pintar berbicara, dan sebenarnya aku sangat payah. Aku lebih banyak diam dan mengobservasi sekelilingku. Namun aku suka mendramatisir segala hal, terutama tulisan-tulisanku. Aku melakukan semua itu tanpa sadar dan bahkan tanpa tahu bagaimana caranya (dan aku juga baru menyadarinya akhir-akhir ini). Beberapa hari yang lalu aku mengirim SMS kepada temanku. Dalam SMS itu aku menceritakan kronologi sebuah kejadian yang baru saja kualami. Sebenarnya jika dia melihat kejadian itu secara langsung, mungkin dia akan tertawa karena sebenarnya kejadian tersebut sangat konyol dan memalukan. Tapi entah kenapa dia malah menganggap kejadian yang kualami itu mirip dengan sinetron.
Dulu, saat aku masih sekolah, aku sering melakukan ‘petualangan’ dengan sahabat masa kecilku (yang tentu saja masih menjadi sahabatku sampai sekarang). Setiap sore kami bertemu dan berkelana dengan motor, menyusuri gang-gang kecil yang belum pernah kami lewati sebelumnya. Kami sama sekali tidak takut tersesat selama kami masih bersama-sama. Terkadang kami membuntuti cowo-cowo yang kami sukai, beraksi seperti detektif, dan buru-buru menyembunyikan keberadaan kami saat cowo itu merasa dibuntuti (kami juga pernah ketahuan, tapi lalu kami memasang wajah polos seolah tidak tahu apa-apa). Kami menciptakan drama kami sendiri di sore yang tenang dan membosankan. Mungkin orang-orang di sekeliling kami hanya akan melihat kami sebagai dua orang remaja perempuan yang sedang bermain atau berjalan-jalan sore. Tapi di dalam jiwa terdalam kami, kami tahu kalau kami sedang berpetualang. Naluri petualangan itu pun masih melekat kuat di dalam jiwaku sampai saat ini (meskipun aku memiliki tingkat keparahan yang luar biasa dalam menebak dan menghapal arah).
Adikku, sahabat-sahabatku, dan temanku, mereka hanyalah beberapa dari banyak manusia ekspresif yang kukenal. Mereka adalah para seniman kehidupan yang mampu mewarnai duniaku dan dunia orang-orang di sekeliling mereka dengan kombinasi warna indah yang mampu membuat kita tersenyum (bahkan meskipun mereka tidak menyadarinya). Mereka adalah manusia-manusia berharga yang mampu membuat kita melupakan keras pahitnya kehidupan. Dan mereka membuatku menyadari bahwa segala sesuatu tidak selalu hitam, putih, atau kelabu. Terkadang kita harus menunggu untuk menyaksikan warna apa yang akan muncul dari balik garis perak awan-awan mendung.
Mungkin, semua yang telah mereka kisahkan kepadaku, apa yang dapat kutangkap dari ekspresi mereka, dan petualangan yang kuciptakan bersama mereka, semua itu dilihat dari sudut pandang yang subjektif. Namun kalau semua itu dapat menjadikan duniaku lebih berwarna dan cerah, aku sama sekali tidak keberatan memakai kacamata pelangi mereka. Lagipula, bukankah tiap karya seni pada mulanya adalah sudut pandang subjektif dari para penciptanya, seperti manusia yang diciptakan melalui kacamata pelangi Tuhan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar