Jumat, 26 November 2010

Berterima Kasih kepada Tuhan

Apakah kalian masih ingat doa-doa yang kalian panjatkan selama kalian hidup? Berapa banyak dari kita yang berdoa seperti ini, “Tuhan, aku ingin bahagia,” atau “Tuhan, aku ingin sukses,” atau, “Tuhan, aku ingin memiliki rumah sendiri,” atau, “Tuhan, aku ingin dia mencintaiku seperti aku mencintainya,” dan banyak “Tuhan, aku ingin...” lainnya.
Tapi berapa banyak dari kita yang berdoa seperti ini, “Tuhan, terima kasih karena masih mengizinkanku untuk hidup di dunia fana ini,” atau, “Tuhan, terima kasih atas anugerah yang telah Kau limpahkan kepadaku di hari ini,” atau, “Tuhan, terima kasih karena telah memberiku perasaan cinta yang indah,” atau bahkan, “Tuhan, terima kasih karena telah memberiku hari yang sulit dan menantang.”
Tidak, meminta dan mengungkapkan keinginan pribadi kita kepada Tuhan bukanlah sesuatu yang salah, bahkan meskipun permintaan kita terlalu egois. Ada juga yang meminta seperti ini, “Tuhan, aku ingin dia dipecat,” atau, “Tuhan, aku ingin dia mendapat ganjaran yang lebih berat,” atau, “Tuhan, aku ingin mereka berpisah.”
Namun yang menjadi pertanyaan adalah, “Apakah kita benar-benar menginginkan semua itu terwujud?”
Dulu, saat aku masih remaja, aku pernah berdoa seperti ini kepada Tuhan, “Tuhan, aku mencintainya. Aku ingin dia mencintaiku seperti aku mencintainya. Hanya itu permintaanku, Tuhan. Tidak lebih.”
Permohonanku terwujud. Orang itu mencintaiku seperti aku mencintainya. Hanya itu. Tidak lebih. Tapi kenapa setelah itu aku merasa kecewa? Bukankah Tuhan sudah mengabulkan permohonanku tepat seperti permintaanku sendiri?
Dulu aku masih terlalu muda untuk mengerti, tapi sekarang aku memahami semuanya. Saat aku meminta, aku tidak tahu apa yang benar-benar kuinginkan. Benar, Tuhan memang seringkali memberikan yang terbaik untuk kita, namun terkadang Ia pun memberikan apa yang kita minta. Masalahnya, seringkali kita tidak benar-benar tahu apa yang sebenarnya kita inginkan.
Saat ini aku sedang mencintai seseorang yang tidak seharusnya kucintai. Aku jatuh ke dalam cinta begitu dalam, hingga nyaris tidak dapat lagi menikmati cahaya matahari (meskipun aku memang lebih suka hujan). Aku merasa sangat bersalah dengan perasaanku ini dan menyembunyikannya dari siapapun, kecuali beberapa sahabat yang sangat kupercaya (dan kutahu akan selalu menerima diriku apa adanya).
Tapi entah kenapa, bahkan dalam tangis di setiap kesendirian malamku pun aku tidak sanggup memohon, “Tuhan aku mencintainya. Tolong dekatkan aku dengannya.” Aku tidak akan menyangkal dan mengatakan kalau aku tidak menginginkannya. Namun tiap kali aku menengadahkan tanganku, bahkan hati nuraniku selalu berulang kali mengingatkanku bahwa itu adalah permintaan yang egois dan dapat melukai orang lain. Pada akhirnya, sampai saat ini aku tidak pernah mengungkapkan permohonanku itu kepada Tuhan.
Dulu, mungkin aku akan melakukan segala cara untuk mendapatkan orang yang kucintai itu. Namun sekarang, begitu banyak pertimbangan yang harus kupikirkan. Aku telah belajar bahwa doa adalah kekuatan terbesar yang pernah dimiliki oleh kehidupan, dan aku tidak ingin menggunakan doaku untuk melukai orang lain. Tapi aku masih ingin berdoa. Aku ingin mengungkapkan isi hatiku yang terdalam kepada Tuhan, dan aku tidak ingin meminta hal lain. Aku sudah merasa berkecukupan dalam berbagai hal. Aku tahu Tuhan telah memberikan semua yang kubutuhkan untuk saat ini.
Akhirnya aku membiasakan diri untuk memulai doaku dengan, “Tuhan, aku berterima kasih atas seluruh karunia yang telah Kau limpahkan kepadaku di hari ini. Terima kasih atas cahaya matahari dan hujan yang telah Kau anugerahkan kepadaku dan seluruh kehidupan di bumi ini. Terima kasih karena Engkau telah memberkatiku dengan keluarga yang baik dan sahabat-sahabat yang menakjubkan. Terima kasih karena Engkau masih memberkatiku dengan kesehatan jiwa, raga, pikiran, dan hati.”
Aku mengulang ucapan terima kasihku setiap malam, meskipun pikiranku masih dipenuhi oleh sosok orang yang kucintai. Dan pada suatu malam, tiba-tiba kabut keraguanku terangkat. Aku mulai memahami apa yang sebenarnya kuinginkan, dan malam itu aku memperpanjang doaku,
“Tuhan, terima kasih karena Engkau masih bersedia membuka hatiku dan memberiku cinta yang indah. Aku mengerti, Tuhan. Cinta bukanlah sesuatu yang harus kusimpan untuk diriku sendiri. Engkau memberiku cinta ini agar aku dapat meneruskannya kepada orang lain. Aku mencintainya, Tuhan. Karena itu kumohon anugerahkanlah kebahagiaan kepadanya. Berikanlah ia kebahagiaan yang benar-benar ia butuhkan, kebahagiaan yang dapat ia sadari dan syukuri keberadaannya. Dan jika keberadaanku menghalangi datangnya kebahagiaan tersebut, maka jauhkanlah aku darinya. Dan jika seluruh kebahagiaan yang ada di dunia ini tidak cukup untuknya, maka ambillah kebahagiaanku dan berikan kepadanya. Sebab aku mengerti, Tuhan. Kebahagiaan mirip dengan cinta. Kedua hal tersebut bukanlah sesuatu yang harus kusimpan sendirian. Engkau memberikannya kepadaku agar aku dapat meneruskannya kepada orang lain. Engkau mencintaiku agar aku dapat mencintai orang lain, dan Engkau pun membahagiakanku agar aku dapat membahagiakan orang lain.”
Aku mengatakan semua itu di hadapan Tuhan tanpa keraguan dan rasa takut. Harus kuakui kalau rasanya memang menyakitkan, bahkan setelah aku memahami bahwa semua itu adalah sesuatu yang memang benar-benar kuinginkan. Sampai saat ini, ego-ku pun masih sering menggodaku untuk meminta “yang lain” kepada Tuhan. Aku tahu kalau aku berhak meminta, “Tuhan, dekatkan aku dengannya.” Tapi kurasa, aku pun berhak untuk tidak menyakiti orang lain dengan doaku. Aku berterima kasih kepada Tuhan, dan Ia menunjukkan kepadaku apa yang benar-benar kuinginkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar