Kalau ada hal yang paling kusukai dari adikku, itu adalah nasi goreng buatannya dan kemampuannya dalam menganalogikan sesuatu. Tadi malam aku bertanya kepadanya, “Kalau gw mati, kira-kira hal apa yang akan paling diinget oleh orang lain tentang gw?”
Lalu adikku mulai bercerita:
“Alkisah ada seorang pria yang kaya raya. Pria kaya tersebut memutuskan untuk berguru pada seorang pria yang hidupnya sederhana. Pada suatu hari, sang guru dan murid makan malam bersama di sebuah restoran mewah. Sang murid yang kaya sudah sering datang ke restoran tersebut, hingga para pelayan di sana mengenal dan sangat menghormatinya. Selama makan malam, para pelayan menaruh perhatian ekstra kepada sang murid, hingga membuat murid tersebut merasa tidak enak kepada gurunya yang duduk semeja dengannya.
‘Tolong jangan terlalu berlebihan melayaniku,’ bisik sang murid kepada para pelayan. ‘Pria yang duduk bersamaku adalah guruku. Hormatilah beliau.’
Para pelayan mengiyakan, namun pada akhirnya mereka tetap saja melayani sang murid lebih dibandingkan gurunya. Sang guru sendiri tampak tidak terlalu mempedulikan sikap para pelayan tersebut dan terus menikmati makan malamnya.
Ketika makan malam telah selesai, sang guru mengeluarkan dompetnya dan memberikan tip yang besar kepada para pelayan. Sang murid maupun para pelayan restoran itu tercengang melihat jumlah tip yang diberikan oleh sang guru.
Dalam perjalanan pulang, sang murid menyatakan keheranannya kepada sang guru, ‘Anda tahu kalau pelayanan di restoran tadi kurang memuaskan, terutama bagi anda sendiri. Kenapa anda malah memberikan mereka tip dengan jumlah besar?’
Sang guru berkata, ‘Mereka memang telah bersikap tidak pantas. Namun mereka telah menentukan pilihan untuk memberikan pelayanan ekstra kepadamu. Itu adalah pilihan mereka. Aku memang bisa saja memberikan tip yang kecil, atau bahkan memprotes sikap mereka yang kurang ajar, namun aku lebih memilih untuk memberikan tip yang jumlahnya di atas kepantasan yang patut mereka terima. Itu adalah pilihanku.
Setiap manusia di dunia ini memiliki pilihan mereka sendiri, dan terkadang pilihan mereka mempengaruhi kita, baik secara positif maupun negatif. Namun aku tidak pernah membiarkan pilihan orang lain mempengaruhi pilihanku. Aku pun juga tidak akan memaksa orang lain untuk mengikuti pilihanku.’”
Cerita di atas memang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pertanyaanku sebelumnya. Tapi aku mengerti. Seperti itulah adikku melihatku, dan seperti itulah kelak dia akan mengingatku saat aku mati.
Lalu aku teringat almarhum ayahku yang meninggal saat aku masih SMU. Selama dalam prosesi, aku melihat seorang pria yang tampak bekerja lebih keras dibandingkan orang-orang lainnya. Ia ikut memandikan jasad ayahku, mengafani, mensholatkan, dan bahkan turun ke liang lahat untuk memakamkan ayahku. Aku tidak pernah berbicara dengannya, namun sikapnya menarik perhatianku. Aku belum sempat bertanya, ketika ibuku menjelaskan, “Orang itu dulu pernah meminta pertolongan Bapak. Bapak lalu membantu orang itu untuk melanjutkan sekolah dan mencarikan pekerjaan untuknya.”
Aku terus menyimpan cerita itu di dalam pikiranku, bahkan ketika ibuku sendiri sudah lupa kalau dia pernah menceritakan semua itu kepadaku. Pada saat yang sama, aku pun mengerti. Orang-orang tidak pernah mengingat berapa banyak jumlah rupiah di rekening bank ayahku. Orang-orang tidak pernah peduli apakah ayahku memiliki kendaraan atau tidak. Orang-orang tidak pernah peduli apakah ayahku tinggal di rumah mewah atau gubuk jerami.
Namun mereka ingat kebaikan yang pernah diperbuat oleh ayahku semasa hidupnya. Mereka peduli dengan kepergian salah satu jiwa yang keberadaannya pernah menyentuh jiwa mereka dengan sisi lembut kehidupan. Mereka peduli pada ingatan indah, rasa syukur, dan terima kasih.
Ayahku bukan orang yang sangat ramah. Gaya bicaranya pun keras. Namun di dalam setiap perbuatan dan sikapnya terdapat kebijaksanaan yang bahkan suaranya masih mendengung di atas langit-langit rumah keluargaku sampai saat ini, mengalahkan memori-memori buruk akan kata-kata keras ala militernya. Dan sekarang, aku akan menyimpan kebijaksanaan-kebijaksanaan itu dan memakainya dengan caraku sendiri. Itu pilihanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar