From: Tabloid Wanita Indonesia no. 679
Mentari terik menyengat. Udara segar, ombak mengalun. Seorang anak berlutut menggali dan memasukkan pasir dengan sekop plastik ke dalam ember birunya. Setelah penuh, dipadatkannya pasir tersebut, lalu dibalikkannyalah embernya. Seperti seorang arsitek kecil, terciptalah sebuah istana pasir. Sepanjang sore dia bekerja tak kenal lelah. Ujung botol menjadi menara, gagang es krim menjadi jembatan.
Kota besar, jalanan yang sibuk, lalu lintas padat. Seorang pria di dalam kantornya. Di atas meja, tertumpuk koran dan berkas kerja. Menjepit telepon pada bahu sambil menekan tombol komputer. Angka telah terjumlah, kontrak yang disetujui menyenangkan hatinya karena telah berhasil membuat kuntungan. Hidup dihabiskannya untuk bekerja, mengatur jadwal kegiatan, meramalkan masa depan, Bonus menjadi pusat konsentrasinya, laba menjadi tujuan hidupnya, sebuah kerajaan telah dibangun.
Dua manusia, sama-sama membangun istana. Tampak memiliki persamaan. Tak peduli apapun yang terjadi, mereka tak bergeming mewujudkan tujuannya. Mereka cerdas, konsisten, dan keduanya akan terkenal luapan gelombang pasang yang membawa kehancuran. Saat itulah perbedaan muncul.
Si kecil akan menjadi saksi sebuah kehancuran, sementara sang pria mengabaikannya. Saat gelombang ombak menghampiri, anak yang bijaksana akan melompat dan bertepuk tangan tanpa adanya kesedihan ataupun takut. Dia tahu hal ini akan terjadi, sehingga tidak merasa terkejut menghadapinya. Saat kehancuran menimpa istana pasirnya, menghisap maha karya ciptaannya ke tengah lautan, dia tersenyum. Hanya tersenyum, mengambil peralatannya, menggandeng tangan ayahnya lalu pulang.
Sang pria, tampaknya kurang bijaksana. Gelombang tahun menghancurkan kerajaannya, membuatnya ketakutan. Setengah mati dia berusaha melindungi istananya dengan menghadang gelombang agar menjauh dari dinding yang telah dibangunnya. Malang tak dapat ditolak. Sang pria hanya bisa merintih sedih “Istanaku!” Samudera tak perlu memberi jawaban. Alam telah mengatur, dari mana asal pasir istana tersebut…
Mungkin anda tidak tahu banyak tentang istana pasir, namun anak-anak tahu. Perhatikan dan pelajari. Bangunlah semua impian, namun tetap dengan kesadaran dan perasaan seorang anak. Saat matahari terbenam dan ombak pasang datang, bersyukurlah karena telah menyaksikan keagungan semesta, lalu pulang. “Seorang yang menganggap matahari sebagai sumber kebahagiaan tak pernah bersinar di tengah hujan.” Percayalah kepada mentari meskipun dia tak bersinar. Percayalah kepada cinta meski tak merasakannya. Percayalah kepada Yang Kuasa meskipun Dia diam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar