Aku pernah berada di suatu masa kehidupan ketika aku merasa sendirian, tersesat di tempat asing yang sama sekali tidak kukenal. Aku memiliki banyak teman dan sahabat, namun mereka tidak dapat mengisi kesendirianku. Aku memiliki keluarga yang sangat menyayangiku, namun mereka pun tidak dapat mengisi kekosongan jiwaku. Aku tahu Tuhan, namun aku tidak pernah benar-benar mengenalnya. Aku menemuiNya hanya pada saat aku menginginkan sesuatu, dan aku selalu meminta dengan cara yang memaksa, tidak peduli apakah permintaanku itu akan menyakiti orang lain yang terlibat. Hidupku terasa kosong. Ada yang hilang…
Pada suatu hari, aku memutuskan untuk memulai ‘perjalanan’ untuk menemukan sesuatu yang hilang itu. Namun aku tidak tahu harus memulai darimana. Aku menghabiskan banyak waktu untuk membaca buku-buku psikologi modern. Buku-buku itu memperkaya jiwaku, namun aku belum menemukan rumah untuk menampung harta-harta itu.
Pada suatu sore, aku menengadah menatap langit melalui jendela kamarku dan melihat warna biru yang indah. Tanpa berpikir lama, aku melangkahkan kaki keluar dari rumah dan segera dapat merasakan bau udara sore, bau yang sangat kurindukan dan selalu dapat membuatku kembali masa lalu. Aku berjalan menuju sebuah tanah kosong di sebelah komplek. Tanah kosong itu dijadikan kebun oleh warga dan dipenuhi oleh pohon-pohon rindang. Setiap sore kebun itu ramai oleh anak-anak yang bermain dan orang-orang yang berolahraga ataupun berkebun.
Aku sampai di depan sebuah pohon, dan aku tercengang ketika menyadari bagaimana waktu telah membawaku berlari begitu cepat. Dulu aku sering bermain di sekitar pohon itu bersama teman-temanku. Dulu pohon itu tumbuh dengan subur, rindang, dan selalu berbuah. Dulu kami mengukir nama-nama kami di pohon itu. Dulu kami mempercayakan pohon itu sebagai rumah kedua dan tempat berlindung kami. Pohon itu telah menjadi saksi kuat-retaknya persahabatan kami. Namun sekarang pohon itu penuh dengan ilalang, kering tanpa daun & buah, gersang, dan dahannya mulai retak.
Aku terpaku selama beberapa lama tanpa menghiraukan tatapan aneh dari orang-orang yang berlalu-lalang di dekatku. Aku merasa marah karena apa yang telah terjadi pada pohon itu, namun aku tidak tahu harus menujukan kemarahanku kepada siapa.
Kemudian aku menyadari satu hal. Dulu pohon itu telah menjadi ‘ibu’ kedua kami, namun satu kali pun aku belum pernah mengucapkan terima kasih kepadanya. Aku menyia-nyiakan waktu yang kumiliki untuk berterima kasih, hingga pohon itu kini nyaris mati. “Masih belum terlambat,” pikirku.
Aku menunggu sampai sekitarku sepi, dan aku mengulurkan tanganku ke pohon itu. Aku merasakan teksturnya yang kasar dan kuat, namun juga hangat dan familiar. Dalam kecanggunganku, untuk pertama kalinya aku berbicara kepada sosok yang aku tahu tidak akan pernah membalas kata-kataku. “Terima kasih,” kataku pelan. “Terima kasih karena sudah menjagaku & teman-temanku,” kalimatku semakin mantap dan meyakinkan. “Terima kasih karena sudah menjadi rumah kedua bagiku & teman-temanku.”
Pohon itu tidak menjawab, tapi aku merasa kalau ucapan terima kasih saja tidak cukup. Kemudian dalam satu kenekatan, tanpa pikir panjang aku memeluk pohon itu. Dahannya yang keras dan retak menggores lenganku, tapi aku tidak peduli. Aku memeluk pohon itu sekuat tenaga, sambil tersenyum membayangkan indahnya masa kecilku. Aku kembali ke rumah dalam suasana hati yang jauh lebih bahagia.
Beberapa hari kemudian, aku memutuskan untuk kembali ke kebun dan menemui pohon itu lagi. Kali ini tanpa ragu aku memeluknya lagi. Namun hari ini ada sesuatu yang berbeda. Aku mendongak dan melihat tunas-tunas daun muda tumbuh di batang-batang pohon itu. Tanpa sadar aku tertawa tanpa suara karena belum pernah aku merasakan hatiku selega itu. Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih dan berjalan pergi, ketika rombongan anak-anak kecil bersepeda melewatiku dan memarkir sepeda mereka di dekat pohon itu. Aku memperhatikan selama beberapa saat dengan was-was. Aku takut mereka akan merusak pohon itu dan mencabuti tunas-tunasnya. Tapi kekhawatiranku tak terbukti. Anak-anak itu hanya duduk di sekitar pohon sambil bermain dan mengobrol. Sama sepertiku dulu. Tiba-tiba aku mendengar suara dari angin sore yang berhembus, “Pergilah… Lanjutkan perjalananmu...” Dan kemudian aku memahami segalanya. Pohon itu telah membesarkanku, dan kini sedang membesarkan anak-anak lain. Pohon itu pernah menjadi rumahku, dan kini menjadi rumah anak-anak itu. Kenapa aku bisa lupa?
Rumah bukan hanya tempat yang menjadi peristirahatan abadi kita di ujung perjalanan, namun juga tempat yang nyaman dan dapat menerima kita apa adanya, yang kita temui di tengah perjalanan. Rumah yang sebenarnya adalah tempat yang dapat menjaga dan merawat kita saat kita belajar untuk tumbuh menjadi diri kita yang terbaik, dan akan melepaskan kita dalam perjalanan lain saat kita membutuhkan ruang yang lebih luas untuk tumbuh. Pohon itu telah menjaga dan merawatku & teman-temanku, dan ia telah melepaskan kami dalam perjalanan lain saat pandangan & jangkauan kami semakin luas. Namun bukan berarti setelah itu kita tidak berhak untuk kembali ke rumah lama kita. Waktu bergerak begitu cepat dan seringkali memaksa kita berlari hingga kita melupakan tujuan kita. Dan terkadang, kembali ke rumah lama akan membantu kita untuk mengingat kembali tujuan awal kita saat kita memutuskan untuk mengarungi perjalanan itu.
Saat ini aku telah menemukan rumah baruku, dan mungkin suatu saat nanti aku akan meninggalkan rumah itu saat aku membutuhkan ruang yang lebih luas untuk tumbuh. Namun baik rumah baruku maupun pohon itu, tetap akan menjadi rumahku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar