Aku mengagumi orang-orang yang memiliki empati besar (aku menyebut mereka “Empath”) dan bersedia menolong siapa saja yang ada di sekitar mereka. Aku selalu mencoba untuk menjadi orang seperti itu. Awalnya, aku bersikap empati karena aku tidak memiliki pilihan. Beberapa tahun yang lalu saat aku masih kuliah S1, teman-temanku sering datang mencariku saat mereka memiliki masalah dan ingin berbagi denganku. Mula-mula aku tidak keberatan (meskipun saat itu aku sama sekali belum mengerti mengapa mereka mau mempercayakan masalah mereka kepadaku). Namun kemudian aku menemukan diriku seringkali stres, bukan karena memikirkan masalahku sendiri, namun justru karena memikirkan masalah teman-temanku. Aku menyerap perasaan mereka saat mereka curhat denganku, dan menganggapnya sebagai perasaanku sendiri. Kemudian dalam satu langkah radikal untuk menyelamatkan diri sendiri, aku memutuskan untuk menjauh dari teman-temanku. Sayangnya, sebagian dari mereka tidak memahami kestresanku dan terus mencariku, hingga aku harus selalu memasang ekspresi wajah “JANGAN MENDEKATIKU” tiap kali aku kuliah. Saat itu aku begitu membenci diriku sendiri dan menganggap semua yang terjadi padaku adalah kutukan. Buku harianku dipenuhi oleh kenegatifan, kestresan, kata-kata kasar, dan sarkasme.
Itu kisahku dulu, sebelum aku mencoba untuk menerima empati sebagai bagian dari diriku dan anugerah dari Tuhan. Sekarang, setelah aku menerima anugerah itu, terkadang aku masih stres (dan bahkan ikut menangis) saat ada teman yang menceritakan masalah mereka kepadaku. Namun aku selalu mencoba untuk menanggapinya dengan bijak (meskipun aku tahu kalau aku tidak sebijak itu). Beberapa “saudari”ku telah membantuku untuk menerima & menggunakan anugerah itu secara wajar, agar aku dapat menolong orang lain tanpa melukai diriku sendiri, atau bahkan orang-orang yang dekat denganku.
Tidak semua orang di dunia ini memiliki empati yang besar. Setiap manusia memiliki empati dan dapat menjadi Empath, namun tidak semua manusia ingin memaksimalkan anugerah itu. Itu bukan kesalahan, karena setiap manusia memiliki pandangan dan prioritas yang berbeda dalam kehidupan. Dulu aku seringkali berempati kepada orang lain dengan harapan bahwa mereka juga dapat berempati kepadaku. Tapi kemudian aku menyadari bahwa sikapku salah. “Berempati kepada orang lain” adalah pilihanku, bukan pilihan teman-teman atau bahkan keluargaku.
Aku juga menemukan bahwa bahkan Empath seringkali menyia-nyiakan harta mereka yang paling berharga (termasuk aku). Keluarga. Harus kuakui kalau dalam perjalanan hidupku, aku begitu memfokuskan empatiku kepada sahabat, teman-teman, dan orang-orang di sekelilingku hingga aku tidak lagi memiliki cukup empati untuk diberikan kepada keluargaku. Aku seringkali lupa bahwa mereka juga sama seperti sahabat, teman-teman, dan orang lain di sekelilingku. Mereka adalah manusia. Dan mereka, orang-orang yang kita sebut sebagai keluarga, juga ternyata memiliki pandangan dan prioritas yang berbeda dengan kita di dalam kehidupan. Kita tidak dapat menuntut mereka untuk memiliki pandangan dan prioritas yang sama seperti kita. Sebaliknya, seharusnya kita dapat lebih memahami mereka dengan empati kita.
Keluarga, apapun bentuk dan wujudnya, adalah salah satu harta manusia yang paling berharga yang pernah diberikan oleh Tuhan. Mungkin mereka tidak seperti yang kita inginkan, namun mereka adalah yang paling sempurna dan paling kita butuhkan selama kita hidup di dunia ini. Ayahku adalah sosok yang bijaksana dan menjadi panutanku. Ibuku berpikiran sederhana, namun selalu dapat menarikku kembali ke realita ketika aku terbang terlalu tinggi ke dunia mimpi. Adikku idealis yang berpikiran terbuka, sehingga ia mau menempatkan dirinya di dalam realita dunia. Aku membutuhkan semua itu. Aku membutuhkan orang-orang seperti mereka di dalam kehidupanku.
Tapi kenyataannya seringkali kita menyia-nyiakan mereka, menuntut mereka agar dapat memahami kita, dan bahkan bertindak egois kepada mereka. Kita seringkali berkata bahwa darah lebih kental dibandingkan air, namun kita justru lebih sering menyia-nyiakan darah dengan tikaman-tikaman kecil yang pada akhirnya dapat membunuh kita sendiri. Bahkan kita sering memanfaatkan mereka untuk membantu kita menolong orang lain tanpa pernah mempertimbangkan keadaan mereka. Sebaiknya kita mencoba untuk memahami keluarga kita terlebih dahulu, sebelum mencoba memahami orang lain. Sebab keluarga adalah kehidupan terdekat yang berjalan di sebelah kita, meskipun tujuan akhir mereka mungkin tidak sama dengan tujuan akhir kita.
Empati adalah anugerah yang istimewa, namun dapat menjadi kutukan jika kita tidak tahu bagaimana cara mengontrol dan menggunakannya secara benar. Para Empath adalah salah satu dari mereka yang dapat menjadikan dunia ini sebagai tempat yang lebih lembut bagi kehidupan-kehidupan lain yang ada di dalamnya. Mengenal seorang Empath adalah sebuah keberuntungan, dan menjadi seorang Empath adalah sebuah anugerah. Jadi, para Empath yang mengagumkan di luar sana, tolong pikirkan lagi baik-baik:
“Berempati kepada orang lain, namun bersikap egois kepada keluarga?”
“Menolong orang lain dengan cara melukai orang lain?”
Apakah hati kalian tidak merasa sakit saat merenungi semua itu?
that is exactly what i feel..
BalasHapusmakasih artikelnya bagus bener,